Home Daerah Limbah PT NHM Rusak Biodata Laut Rugikan Nelayan, Pemerintah Tutup Mata

Limbah PT NHM Rusak Biodata Laut Rugikan Nelayan, Pemerintah Tutup Mata

222
0
Bagikan artikel ini :

Globalnews.co.id (Ternate) – Teluk Kao, di Halmahera Utara, Maluku Utara, tercemar karena limbah tambang emas PT Nusa Halmahera Mineral (NHM), bukan cerita baru.

Penelitian dari Institut Pertanian Bogor (IPB) pada tahun 2010 menemukan beberapa jenis ikan dan biota laut terkontaminasi bahan berbahaya seperti sianida dan merkuri. Kandungan sianida di tubuh kakap merah, belanak, dan udang di Tanjung Taolas dan Tanjung Akesone sudah melebihi ambang batas aman, berkisar 1,52 ppms – 4,5 ppm WHO (2004), hingga sangat membahayakan jika dikonsumsi.

Warga pun terus mengkonsumsi ikan-ikan di sana, bahkan sebagian masih menggunakan air yang tercemar untuk keperluan sehari-hari. Kini, dampak pencemaran diduga mulai mengenai warga. Belasan warga Desa Balisosang, mulai mengalami penyakit benjol-benjol di sekujur tubuh.

Mila Dawangi, Praktisi Hasil Laut Maluku Utara (Malut), mengatakan, berdasarkan data dilokasi, warga yang terkena penyakit benjol–benjol sekitar 13 orang. Penyakit ini makin parah, namun belum ditanggulangi oleh petugas kesehatan. “Penyakit ini hampir menjalar ke separuh dari tubuh mereka,” katanya ditemui ditengah-tengah pertemuan Organisasi Gempartak, di Aula Hotel Bukit Pelangi, jalan Jeruk, Kecamatan Ternate Selatan Malut, Sabtu (7/10/2017).

Dari hasil penelusurannya, penyakit yang menimpa warga ini muncul setelah mereka mengkonsumsi ikan dari Teluk Kao dan mengambil kerang dari Sungai Kobok. Pipa limbah NHM sering jebol dan limbah mengalir ke Sungai Kobok sampai ke Teluk Kao.

“Mereka sering menggunakan air Sungai Kobok dan Ake Tabobo, padahal sungai itu diduga tercemar limbah perusahaan. Kami juga memperkirakan penderita penyakit seperti ini lebih dari 13 orang dan akan terus meningkat,” ucap Mila.

Dia mengatakan, masyarakat gelisah dan tak bisa berbuat apa-apa. Mereka nekat mengkonsumsi ikan dari Teluk Kao karena tak ada tempat lain untuk memperoleh ikan.

Mila memperkirakan,  sekitar 5.000 jiwa masyarakat adat Hoana Pagu dan masyarakat lokal berada di sekitar tambang NHM akan mengalami gangguan kesehatan. “Karena perusahan mencemari kawasan yang menjadi sumber penghidupan warga adat. Kasus ini tidak pernah menjadi perhatian pemerintah pusat dan daerah,” ujar Mila.

Untuk itu, Mila mendesak segera ada tindakan untuk menyelamatkan Teluk Kao. Pemerintah, katanya,  harus memberikan hukuman dan tak lagi melanjutkan izin Kontrak Karya NHM karena banyak mendatangkan masalah kepada masyarakat dan lingkungan. “Juga harus audit lingkungan atas dugaan pencemaran lingkungan ini.” tegasnya.

Sejak perusahaan hadir, tak hanya krisis air bersih, sungai dan teluk tercemar, tetapi masyarakat mulai kehilangan sumber ekonomi. Air tercemar, ekosistem pun rusak. Tak pelak ikan teri yang menjadi andalan nelayan, kini lenyap. Bukan itu saja, satwa buruan pun mulai sulit. Tanah adat Hoana Pagu, Malifut, Halmahera Utara pun dikuasai perusahaan.

Sumber kehidupan masyarakat hilang menyebabkan mereka mencari alternatif lain. Ada yang menjadi penambang batu, sebagian lagi penambang emas di lokasi perusahaan. Mereka harus mencari uang buat kehidupan keluarga dan anak-anak sekolah. Melaut yang dulu primadona, kini tidak lagi. Mereka harus mengeluarkan uang ratusan ribu satu kali melaut, namun hasil tangkapan hanya cukup buat makan.

Apalagi sejak ada NHM, mereka makin sulit mengambil kerang dan ikan di Sungai Kobok. Bahkan, tanaman di sekitar sungai tidak lagi produktif.

Mila mengatakan, masyarakat adat Pagu makin kesulitan mengakses sumber-sumber penghidupan mereka. Dulu, mereka mudah berburu babi dan rusa. “Kini, warga harus berbulan-bulan di hutan baru bisa dapat hewan yang mereka cari.” paparnya.

Dulu, warga juga mudah mendapatkan udang di Teluk Kao. Mereka membuat udang menjadi terasi lalu dijual. Kini, udang sulit didapat.

Menurut Mila, masyarakat adat Pagu hidup miskin di atas tumpukan emas. “Wilayah mereka kaya emas, justru hidup mereka makin susah. Kekayaan diambil pihak lain lalu meninggalkan masalah.”

Mila Dawangi meminta, NHM memperhatikan kesejahteraan masyarakat dan lingkungan sekitar tambang serta memperbaiki sistem pengolahan limbah.

Dirinya berharap melalui wadah Organisasi Gempartak ini bisa mencarikan solusi agar pencemaran limbah di Teluk Kao yang bertahun-tahun lamanya bisa dihentikan. Sebab jika dibiarkan terus menerus akan merugikan masyarakat pada umumnya serta ekosistem yang ada dilautan.

“Usaha saya kepiting rajungan itu juga sudah ada bukti hasil lab. Dimana itu yang menjadi kerugian saya karena secara otomatis kepiting rajungan jatuh harga” pungkas Mila Dawangi. (Sla)

Bagikan artikel ini :