Home Fokus MUI Ingatkan Aparat Harus Tegas Tindak Anasir-anasir Yang Akan Hidupkan PKI

MUI Ingatkan Aparat Harus Tegas Tindak Anasir-anasir Yang Akan Hidupkan PKI

357
0
Bagikan artikel ini :

Globalnews.co.id (Jakarta) – Tiap bulan September jelang peringatan pengkhianatan PKI selalu ada kegiatan yang beranasir ingin hidupkan PKI. Ahad malam kemarin (17/9/2017) di LBH Jakarta ada kegiatan anak cucu ex PKI menyanyikan lagu-lagu PKI dimasa jayanya dulu seperti genjer-genjer dll sampai larut malam sehingga mengundang kemarahan rakyat anti PKI dan terjadi bentrok polisi dengan rakyat.

Menurut Pengurus MUI Pusat, Anton Tabah Digdoyo, hal itu tak perlu terjadi jika aparat tegakkan Undang-Undang secara tegas karena hal itu sudah secara tegas dalam UU 27 tahun 1999 bahkan telah tersurat dalam KUHP pasal 107a s/d f.

Lanjutnya, Pasal 107a sebagai berikut: yang mengembangkan menyebarkan ajaran komunisme dalam segala bentuk dan perwujudannya baik secara lisan, tulisan atau media apapun dipidana 12 tahun penjara. Pasal 107e: dipidana 15 tahun penjara yang adakan hubungan dengan partai/ organisasi komunis negara lain.

“Sudah sangat jelas kan, mana yang kurang jelas?,” tanyanya.

Menurutnya kegiatan Ahad malam di LBH bisa diurai unsur-unsurnya (anasir) pasal-pasal tersebut. Misalnya siapa-siapa saja yang lakukan kegiatan sampai larut malam di LBH tersebut? Lalu unsur ajaran komunisme dalam segala bentuk perwujudannya? Lagu genjer-genjer adalah lagu PKI dimasa kejayaannya pra G-30S/PKI September 1965, dan lain-lain. “Unsur-unsur bisa digali lebih lagi, ” tuturnya.

Lanjutnya, menghadapi ancaman komunisme seperti ini seluruh komponen bangsa harus siaga apalagi TNI, karena ancaman komunisme bukan kejahatan biasa tapi kejahatan yang bisa merusak kedaulatan negara karena itu pasal 107a s.d f KUHP tersebut masuk dalam kelompok kejahatan terhadap keamanan negara. TNI wajib proaktif membasmi anasir-anasir gangguan ancaman komunisme ini.

“Saya juga dukung pemutaran film sejarah G-30S/PKI dihidupkan lagi agar rakyat tak pernah lupa dengan kebiadaban PKI yang anti Tuhan (atheis), walaupun mereka mengaku beragama tapi aslinya tak percaya dengan akhirat,” ujar Anton.

“Pemutaran film sejarah G-30S/PKI tak perlu memberitahu aparat apalagi minta ijin,” pungkas Anton Digdoyo yang juga mantan Jendral Polri yang kini aktif di berbagai kegiatan sosial dan dakwah. (Red)

Bagikan artikel ini :