Home Nasional Pengurus Pusat MUI Minta Perlakukan Siapapun Terlapor, Sesuai Hukum Dan Etika

Pengurus Pusat MUI Minta Perlakukan Siapapun Terlapor, Sesuai Hukum Dan Etika

537
0
Bagikan artikel ini :

Globalnews.co.id (Jakarta) – Sejak kemarin, Rabu (6/9/2017), rakyat dan media ramai membahas perlakuan polisi yang menangkap ustadz Alfian Tanjung setelah Hakim Pengadilan Negeri Surabaya memutus bebas dari dakwaan jaksa tentang kasus komunisme yang dituduhkan oleh ustadz tersebut.

Namun polisi langsung menangkap Ustadz Alfian di lapas medaeng dan langsung menjadikan tersangka kasus pencemaran nama baik atas laporan sekjen PDIP.

Rakyat menganggap polisi telah berbuat diluar kewajaran hukum kriminalisasi tokoh-tokoh Islam di negara Muslim terbesar didunia ini. Terkait hal ini Redaksi telah minta tanggapan Pengurus MUI Pusat Anton Digdoyo yang juga kolomnis, Kamis (7/9/2017).

Anton mengatakan sebelum ada KUHP, dalam hal seseorang disangka melakukan tindak pidana sering diperlakukan sebagai obyek tindak pidana, artinya tanpa pemeriksaan saksi-saksi, alat bukti seseorang terlapor, penyidik langsung memeriksanya. “Setelah KUHAP tahun 1981 untuk meriksa terlapor, alat-alat bukti, dan saksi-saksi harus diperiksa lebih dahulu dan bila sudah cukup bukti, terakhir baru terlapor dipanggil untuk diperiksa dan ditetapkan sebagai tersangka atau bukan,” ujarnya.

Anton mengatakan lebih lanjut, apabila seseorang melakukan beberapa tindak pidana yang berbeda, waktu lokus berbeda, maka tindak pidana tersebut harus ditindak secara tersendiri dipandang sebagai tindak pidana yang berdiri sendiri. Dan perlakukan terlapor sebagai subyek.

Lanjutnya, apalagi kasus Pencemaran nama baik delik materiil harus dibuktikan dulu dengan saksi-saksi dan alat-alat bukti yang lain, ini spt kasus ahok hanya beda pasal termasuk saksi-saksi ahli harus sudah diperiksa dulu uuntuk menilai secara materiil terlapor. “Diberikan hak untuk membuktikan ucapannya, bila tidak dapat dibuktikan ucapannya baru dapat dikatakn memfitnah seperti yang disangkakan pasal 311 yo 310 dengan sengaja merusak nama baik seseorang,” tutur Anton,

“Untuk itu MUI minta perlakukan siapapun terlapor sesuai hukum dan etika,” kata Anton.

“MUI juga yakin polri faham bahwa penyidik secara universal dunia berazas Samenloop concursus realis (mehrdaadsche samenloop) dan endaadsche samenloop (concursus idealis),” tegas Anton Digdoyo yang mantan Jendral Polri tersebut. (Red)

Bagikan artikel ini :