Home Opini/Artikel Jangan Hanya Kutuk Myanmar

Jangan Hanya Kutuk Myanmar

414
0
Bagikan artikel ini :

oleh Ahyudin*

Globalnews.co.id – Tiga belas kali kami mengirim tim untuk merespon gelombang Rohingya, pencari suaka yang lari dari Myanmar, sejak 2012 lalu. Tak semuanya bisa masuk Myanmar untuk menolong Rohingya. Sebagian bisa masuk, sebagian lainnya mengalihkan tujuan ke negeri penampung para pencari suaka, seperti Bangladesh. Mereka ditolak di mana-mana, bahkan di tanah kelahiran mereka di mana moyangnya pernah menjadi rakyat kerajaan berdaulat.

Saya tak tertarik dengan angka, yang asyik saja menyoal tentang sekian ribu jiwa melayang lantaran kekerasan komunal. Atau lantaran pembakaran kampung, penyerangan oleh kelompok bersenjata tajam hingga oleh petugas bersenjata. Atau tewas dalam pelarian dan mayatnya terpaksa dibuang ke laut atau ke sungai Naf yang membentang antara Myanmar dan Bangladesh.

Saya pun tak lantas menilai penting suara lantang dunia internasional terhadap Myanmar. Teguran keras, sekeras-kerasnya teguran; kecaman, sehebat-hebatnya pilihan kata untuk mengecam; hinaan, serendah-rendahnya kata yang menghinakan; bahkan kutukan, sedahsyat-dahsyatnya kalimat untuk mengutuk.

Pengetahuan dunia tentang sejarah Rohingya sebagai jejak hidup Kerajaan Islam Arakan tidak kurang. Sejarawan telah menunaikan tugasnya menghidangkan pengetahuan sejarah Rohingya, kata yang tabu digunakan di Myanmar untuk membincang orang-orang asal Myanmar penanggung label baru sebagai “pendatang yang sudah habis masa tinggalnya” sehingga tanpa rasa kemanusiaan, dibersihkan dari Myanmar.

Jurnalis telah menjalankan perannya mengabarkan Rohingya dari waktu ke waktu, seolah kejadian yang lama berlalu diputar-ulang. Hanya pemerannya saja yang berbeda. Mereka kabarkan Rohingya yang terlunta. Padahal, setiap kabar Rohingya selalu baru: korban baru, berdarah, lemah, kering air mata, atau tak bernyawa.

Pegiat kemanusiaan, seperti ACT, konsisten menyuarakan nasib saudara-saudara Rohingya. Tentu dengan peluasan perspektif kerja dan pandangan agar dunia tak bosan dengan narasi yang serupa hingga melupakan nasib Rohingya. Hari ini ACT membawa nama bangsa, menghadirkan semangat kewiraan pemimpin bangsa berbilang tahun silam: Indonesia Selamatkan Rohingya.

Etnis Rohingya yang Menerima daging Global Qurban (GQ) ACT 1438 H

Indonesia dalam kerja kemanusiaan ini ditopang elemen utama bangsa, yakni rakyat negeri ini. Rakyatlah penentu eksis tidaknya sebuah negeri. Rakyat yang tahu bagaimana nama baik Indonesia dipahat dengan kemanusiaan dan rasa damai dan dengan perlawanan keras terhadap penindasan dalam bentuk apapun. Rakyat yang kian tak sabar menunggu pemerintah bisa langsung merespon kematian tragis bertahap-tahap selama beberapa tahun di negeri tetangga. Ini tentu agar rakyat yang makin tak kuasa menahan tangis untuk Rohingya, tak terseret kezaliman lantaran pendiaman atas tragedi kejahatan kemanusiaan.

Mengapa saya tak tertarik angka-angka lagi? Bagi siapapun yang punya nurani, terlebih punya iman, penghilangan satu jiwa sama saja dengan penghilangan seluruh jiwa! Pun, saya tegaskan: sudahi mengutuk Myanmar. Jangan terus-menerus mengutuk (saja) Myanmar, tanpa langkah nyata. Karena, kita juga bukan Ibu Malin Kundang, yang kutukannya bisa mengubah Si Anak Durhaka menjadi batu.

Hari ini, setelah sesak jagat maya dengan ratapan kematian dan tatapan kosong orang-orang Rohingya, mari bersama bebaskan diri kita—rakyat dan pemerintah Indonesia—dari dosa atas pendiaman kekejian di depan mata. Tak berbuat padahal mampu, alangkah berat hisabnya di akhirat kelak.

Maka, bersama, kita ambil langkah nyata: siapkan zona aman untuk Rohingya, agar tak perlu ada pengusiran paksa yang menambah korban jiwa. Pemerintah Indonesia bisa menyatakan diri kepada dunia, bersama Rakyat Indonesia, untuk menyelamatkan Rohingya.

ACT bersama elemen rakyat akan terlibat dalam penyelamatan untuk sedapat mungkin menjaga kelangsungan hidup para pencari suaka dari Myanmar ini. Bahkan, kita siap tidak mengusik Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Kita siap bekerja secara bergotong-royong, sebuah kata sakti kebangsaan, saripati Pancasila. Gotong-royong itu, kata Bung Karno, adalah perasan dari Pancasila menjadi Trisila, dan Trisila menjadi Ekasila.

Kita sambut, kita jemput Rohingya. Sebagaimana tindakan nyata pemerintahan sebelumnya, menolong “manusia perahu” dari Vietnam, menyediakan Pulau Galang yang dicatat dengan tinta emas dalam sejarah kemanusiaan dunia. Ketika situasi Vietnam kondusif, para pencari suaka itu kembali ke Vietnam.

Itulah sikap bangsa besar, siap menerima tamu, menyuguhkan hidangan terbaik, bahkan siap menyelamatkan orang-orang yang terancam jiwanya. Bergotong-royong membantu mereka yang tak punya harapan, Insya Allah mengundang banyak kebaikan bagi Indonesia.

#LetsACTIndonesia
#LetsHelpRohingya

*Penulis adalah Presiden Aksi Cepat Tanggap (ACT)

Bagikan artikel ini :