Home Opini/Artikel Diantara Dua pilihan

Diantara Dua pilihan

433
0
Bagikan artikel ini :

Oleh: Felix Siauw*

Globalnews.co.id (Jakarta) – Tidak ada yang netral dalam hidup ini, kalau kita tidak sedang memperjuangkan kebaikan maka kita sedang melanggengkan keburukan, kita tak bisa netral

Seringkali hidup memang dua pilihan saja, hitam putih, surga neraka, pahala siksa, lelaki wanita, iman kafir dan sebagainya, dan memang kita harus memilih salah satunya

Anggaplah hidup manusia seperti tanah kosong, bila tidak ditanam bunga, yang muncul ya rerumputan dan alang, tidak ada kata netral dalam hidup sebenarnya

Sama persis seperti diri kita, bila kita tidak melatih kebiasaan baik, maka diri kita akan penuh kebiasaan buruk tanpa kita sadari, bila kita tak memaksa rajin, kita malas

Sama seperti negeri ini, pasti punya kecenderungan, walau selalu dikatakan ‘netral’. Pertanyaannya kemana negeri ini mengarah? Apakah pada kebaikan atau keburukan?

Dalam Islam, bila tidak sedang taat wahyu, artinya kita sedang ikut nafsu, bila kita tidak mengajak orang pada kebaikan artinya kita menyetujui keburukan

Sama seperti negeri ini, harus punya identitas, agar tidak mencla-mencle dan jelas arahannya. Sayang saat ini banyak orang yang ingin mengubah haluan negeri

Akar negeri ini adalah Islam, perlawanan pada penjajahan juga atas nama jihad, pun saat dimerdekakan disebut nama Allah, mereka yang rembuk juga mayoritas Muslim

Lalu bagaimana mungkin ada yang keberatan dan protes bila kaum Muslim ingin menjalankan perintah agama di negeri yang sudah dialiri oleh darah mereka sendiri?

Jadi sebenarnya saat mereka mengatakan “Ini negara bukan milik satu kelompok atau satu agama saja”. Sejatinya mereka tak ingin kaun Muslim taat pada Allah secara total

Masalahnya, agama kita punya aturan lengkap dari cara sujud sampai ekonomi, mereka tak punya begitu. Jadi kata-kata itu wajar bagi mereka tapi merugikan kita

Ingat, saat melaksanakan ajaran agama di negeri ini ingin dicitrakan intoleran, sebenarnya disaat yang sama mereka ingin arahkan kita agar ikut aturan mereka

Waspada pada penjajahan pemikiran, yaitu kita dijauhkan dari Islam dengan jargon-jargon dan doktrin semisal toleransi, pluralisme, sekulerisme, dan semuanya kebablasan. (Red)

*Penulis adalah seorang pengemban dakwah, pembicara dan Penulis

Bagikan artikel ini :