Home Globalnews Student Kemenristek Dikti : Tidak Ada Larangan Bercadar, Perti Harus Hargai Perbedaan

Kemenristek Dikti : Tidak Ada Larangan Bercadar, Perti Harus Hargai Perbedaan

1404
0
Spanduk Larangan penggunaan cadar di Universitas Pamulang
Bagikan artikel ini :

Globalnews.co.id ( Jakarta ) — Polemik pelarangan cadar yang terjadi di kampus UIN Jakarta dan terakhir di Universitas Pamulang ( UnPam ) tampaknya menjadi preseden buruk kebijakan kampus. Pasalnya Kementerian Riset Teknologi dan Perguruan Tinggi (Kemenristek Dikti) hingga saat ini tidak melarang mahasiswi maupun dosen menggunakan cadar di dalam kampus.

Menurut Direktur Kemahasiswaan Kemenristek Dikti, Didin Wahidin, bercadar adalah hak seorang warga negara Indonesia.

Baca : Arogansi Rektor UIN Jakarta, Lepas Cadar Atau Keluar dari UIN

“Kementerian sendiri tidak ada larangan (cadar, red),” ungkapnya pada Kiblat.net di Universitas Al-Azhar Indonesia, Kebayoran Baru Jakarta.

“Kita tidak ingin di PT (Perguruan Tinggi, red) manapun menerapkan sesuatu yang berbeda, dalam artian perbedaan (cadar, red) itu harus diterima,” ungkapnya pada Kiblat.net saat ditemui di Kebayoran Baru, Jakarta pada senin lalu.

Baca : Pakai Cadar di Universitas Pamulang, Mahasiswi Bisa Drop Out

Namun, Didin mengaku hingga saat ini dirinya belum mengetahui secara pasti soal larangan cadar tersebut di Unpam.

“Saya belum dengar, (secara spesifik, red) saya tidak berpendapat dulu. Mungkin mereka punya aturan sendiri, tapi dari Kementerian sendiri tidak ada larangan itu (cadar, red),” ungkapnya.

Secara pribadi, ia pun tidak mempermasalahkan jika seorang Muslimah menggunakan cadar. Menurut nya itu adalah hak seorang Muslim dan hak seorang warga negara Indonesia.

“Saya kira tidak masalah,” tukasnya.

Didin Wahidin pun menampik jika cadar diidentikkan dengan radikalis dan ekstrimis. Hanya saja, menurutnya, stigma seperti itu muncul lantaran yang ditunjukkan dan viral di masyarakat, orang-orang yang bercadar adalah istri oknum teroris.

“Di Arab kan ada yang tidak ekstrim juga. Jika kemudian di sini diidentikkan dengan radikal, mungkin selama ini mereka melihat oknum-oknum teroris itu istrinya pake cadar, hanya ada streotip itu saja,” ungkapnya.

Namun, dengan adanya streotip seperti itu pun, tidak lantas penggunaan cadar dilarang di Indonesia, tidak. “Tidak berhenti itu menjadi dilarang. Orang bisa pakai pakaian apa saja, silahkan,” ungkapnya.

Diketahui, Universitas Pamulang menerapkan larangan bercadar bagi mahasiswinya lantaran dinilai cadar dapat mengganggu komunikasi.
Drs Darsono, Ketua Yayasan Universitas Pamulang beralasan, cadar menyebabkan yang terlihat hanya mata.

( ib via Kiblat.net )

Bagikan artikel ini :