Home Afrika Lebih Dari 150 Pengungsi Afrika Ditenggelamkan di Laut Yaman, 13 Orang Hilang

Lebih Dari 150 Pengungsi Afrika Ditenggelamkan di Laut Yaman, 13 Orang Hilang

477
0
Bagikan artikel ini :

Globalnews.co.id ( Yaman ) –Sejumlah pengungsi dan migran telah “sengaja ditenggelamkan” oleh penyelundup manusia untuk kedua kalinya dalam 24 jam di lepas pantai Yaman, hal ini dikatakan menurut agen migrasi Perserikatan Bangsa-Bangsa. Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) mengatakan dalam sebuah pernyataan Kamis malam (10/8/2017) bahwa stafnya menemukan enam mayat di pantai – dua laki-laki dan empat perempuan – dan 13 orang masih hilang.

Dikatakan 84 migran meninggalkan pantai sebelum staf IOM tiba saat memberikan bantuan medis darurat serta makanan dan air untuk 57 migran yang masih hidup. Badan migrasi PBB mengatakan 160 migran Ethiopia dipaksa terjun ke Laut Arab pada hari Kamis (10/8/2017) .

“Ini memang situasi yang sangat dramatis,” ujar Laurent de Boeck, kepala agen Yaman, mengatakan kepada Al Jazeera dari Brussels pada hari Kamis (10/8/2017).

“Mereka berada di kapal dengan penyelundup, yang menjatuhkan mereka ke laut sebelum sampai di pantai. Beberapa orang dilaporkan telah hilang, tapi yang lain dikuburkan oleh teman mereka di pantai.”

De Boeck mengatakan bahwa insiden tersebut dilaporkan oleh beberapa orang yang selamat, yang dia gambarkan sebagai “lelah dan terguncang”.

Baca : Jumlah Korban Wabah Kolera di Sana’a, Yaman Semakin Meningkat

“Situasi ini baru,” katanya, menambahkan bahwa “ini adalah pertama kalinya” bahwa agendanya mendokumentasikan orang-orang yang dipaksa keluar dari kapal oleh penyelundup sebelum sampai di tepian.

De Boeck mengatakan bahwa perang saudara di Yaman dan runtuhnya negara telah memungkinkan “jaringan kejahatan untuk bertindak bebas”, yang membahayakan banyak pengungsi dan migran.

William Lacy Swing, kepala IOM, menyesalkan kematian dalam sebuah video yang diposkan di Twitter, mengatakan bahwa ada “sesuatu yang secara fundamental salah dengan dunia ini jika jumlah anak yang tak terhitung jumlahnya dapat dengan sengaja dan tanpa ampun tenggelam”.

Dia menggambarkan rute penyelundupan dari Tanduk Afrika ke Yaman sebagai “rute yang sibuk dan sangat berbahaya” karena konflik di sana.

Perang antara pemerintah yang didukung Saudi dan pemberontak syiah Houthi yang didukung Iran telah membunuh lebih dari 10.000 orang dan melukai 44.500 lainnya sejak tahun 2015.

Dalam insiden tersebut pada hari Rabu(9/8/2017), penyelundup memaksa lebih dari 120 orang terjun ke laut saat mereka mendekati pantai Yaman, kata pernyataan IOM tersebut. Para stafnya menemukan kuburan dangkal dari 29 migran di pantai di Shabwa selama patroli rutin. Sedikitnya 22 migran masih hilang.

Usia rata-rata penumpang adalah 16 tahun, kata agensi tersebut.

De Boeck mengatakan kepada Al Jazeera pada hari Kamis(10/8/2017) bahwa penyelundup dari Djibouti, Ethiopia dan Somalia bekerja sama dengan rekan-rekan mereka di Yaman untuk mengangkut orang-orang melintasi Tanduk Afrika.

Perairan sempit antara Tanduk Afrika dan Yaman telah menjadi jalur migrasi yang populer meski konflik Yaman terus berlanjut.

Pengungsi dan migran mencoba masuk ke negara-negara Teluk yang kaya minyak. Tapi begitu di Yaman, para pengungsi dan migran menghadapi kebrutalan perang, memaksa mereka kembali ke Sudan, Mesir dan Libya, di mana mereka melintasi Laut Tengah untuk mencapai Eropa.

sumber : Al Jazeera
editor : Ibrahim

Bagikan artikel ini :