Home Nasional Kominfo Buka Blokir, DNS Telegram Kembali Dibuka

Kominfo Buka Blokir, DNS Telegram Kembali Dibuka

453
0
Bagikan artikel ini :

Globalnews.co.id ( Jakarta ) — Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) akhirnya mencabut blokir Telegram pada hari Kamis (10/8/2017). Dengan demikian 11 (Domain Name Server) DNS Telegram sudah bisa diakses kembali decara normal. Hal ini disampaikan melalui konferensi pers yang diselenggarakan di Kementerian Kominfo, Jakarta.

Hadir Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara, Dirjen Aptika Kementerian Kominfo Semuel Abrijani Pangerapan, dan Taruli dari Koordinator tim Trust+.

Pada kesempatan itu Menkominfo mengatakan, pembukaan blokir Telegram versi web ini berkat upaya kedua belah pihak dalam mengatasi konten negatif, khususnya yang berkaitan dengan radikalisme dan terorisme.

“Dengan progres yang sama-sama dilakukan Telegram, dikerjakan oleh Kominfo maupun tim dari Telegram. Jadi, hari ini Telegram untuk webnya dibuka kembali sehingga masyarakat bisa menggunakan, memanfaatkan Telegram web lagi,” ucap Rudiantara.

Progres yang dimaksud adalah pembahasan kesepakatan antara pemerintah dengan Telegram beberapa waktu lalu. Rudi menerangkan bahwa pihaknya dan CEO Pavel Durov setuju untuk menjalankan beberapa kesepakatan.

Pertama, Telegram akan membuka perwakilan khusus di Indonesia yang akan berhubungan langsung dengan pemerintah jika dibutuhkan komunikasi lanjutan. Secara sistem, perusahaan aplikasi chat asal Rusia tersebut juga berjanji akan membuat script, peranti lunak kecil untuk melakukan filtering di Telegram sendiri.

“Jika kita sedang cari konten yang berisi ISIS misalnya, ketik ISIS nanti konten-konten yang ada di Telegram akan muncul sehingga by sistem Telegram akan melakukan penutupan (channel/grup). Kemarin sudah setiap hari mereka melakukan suspend terhadap 10 channel atau grup yang bisa diakses di Indonesia,” terang Ully Taruli selaku Koordinator Trust Positif Kominfo.

Kemudian, Kominfo dan Telegram menyepakati standar operasional procedure (SOP) jika masih ditemui konten-konten negatif khususnya yang berkaitan dengan radikalisme dan terorisme. Untuk mengatasi hal ini Pemerintah dan Telegram mengusahakan laporan yang masuk akan diproses dan ditindaklanjuti dalam 1×24 jam.

“Jadi (SOP) kepada siapa menghubungi, bagaimana caranya, komunikasi seperti apa dengan service level pada hari yang sama diselesaikan. Mudah-mudahan kalau ada yang mengadukan konten ke kami, kita proses agar bisa ditindaklanjuti di hari yang sama untuk diturunkan jika kontennya memang negatif, terutama yang berhubungan dengan terorisme dan radikalisme,” terang Rudi.

Sebelumnya, Kominfo memutuskan menutup akses layanan pesan instan berlogo pesawat kertas tersebut pada Jumat (14/7/2017). Kominfo kemudian meminta kepada seluruh Internet Service Provider (ISP) untuk melakukan pemutusan akses (pemblokiran) terhadap 11 Domain Name System (DNS) milik Telegram. ( ibr )

Bagikan artikel ini :