Home Bisnis Petani Tebu Aksi Tumpah Gula di Depan Kantor Dinas Perdagangan Cirebon

Petani Tebu Aksi Tumpah Gula di Depan Kantor Dinas Perdagangan Cirebon

955
0
Puluhan ton gula rafinasi menumpuk di gudang distributor/pedagang di sekitar Pelabuhan Cirebon, Kamis (3/8/2017). - Foto: Republika
Bagikan artikel ini :

Globalnews.co.id ( Cirebon ) — Mafia gula tampaknya bukan isapan jempol belaka. Keberadaan dan aksi mafia gula ini makin mencekik petani tebu Indonesia. Ratusan petani tebu yang tergabung dalam Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Jabar menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor Dinas Perdagangan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Kota Cirebon, Selasa (8/8). Mereka menuntut pengawasan terhadap peredaran gula rafinasi.

Dalam aksinya, para petani menghambur-hamburkan 2 karung gula pasir, yang masing-masing karung berisi 50 kg gula pasir. Aksi ini terjadi karena kekecewaan mereka akibat maraknya peredaran gula rafinasi. Padahal saat ini, ribuan ton gula pasir milik petani tebu justru tak laku terjual.

Terpamang pula poster bergambar berupa foto sebagai bukti timbunan gula rafinasi di gudang milik salah seorang pengusaha di kompleks pergudangaan Jalan Benteng di sekitar Pelabuhan Kota Cirebon. Jumlah timbunan itu diperkirakan mencapai 40 – 50 ton.

“Saat ini petani tebu betul-betul dalam kondisi sekarat,” kata Ketua DPD APTRI Jabar, Dudi Bahrudin, seperti dilansir dari Republika Online.

Dudi menyatakan, sudah sejak tiga bulan terakhir, gula milik petani tak laku terjual. Akibatnya, para petani tebu harus menjual harta benda untuk membiayai hidup keluarga masing-masiing.

Tambah Dudi, saat ini ada sekitar 10 ribu ton gula petani yang belum laku terjual. Gula petani tersebut kini hanya ditumpuk di gudang di dalam tiga pabrik gula yang ada di Jawa Barat. Kondisi mengenaskan ini merupakan imbas kebijakan PPN 10 persen terhadap gula petani.

Disaat kondisi petani tebu yang sedang terpuruk, produsen dan pedagang gula rafinasi justru memanfaatkannya dengan merembeskan gula rafinasi ke pasar konsumsi. Hal itu di antaranya seperti yang ditemukan di salah satu pasar tradisional di Kabupaten Kuningan.

Selain itu, DPD APTRI Jabar juga menemukan gula dengan kemasan merk PT Angels Product di salah satu supermarket di Kota Cirebon. Gula itu diduga gula rafinasi yang dikamuflasekan menjadi kemasan gula kristal putih. Dugaan tersebut mencuat karena perusahaan tersebut merupakan pabrik gula rafinasi.

DPD APTRI Jabar pun menemukan puluhan ton gula rafinasi di gudang milik salah seorang pengusaha di kompleks pergudangaan Jalan Benteng di sekitar Pelabuhan Kota Cirebon. Namun saat ini, gula rafinasi itu tidak lagi diketahui keberadaannya.

Dudi menjelaskan, sejumlah aturan sudah jelas melarang produsen gula rafinasi menjual gula rafinasi ke pasar. Di antaranya Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 527/MPP/Kep/9/2004 tentang Ketentuan Impor Gula dalampasal 2 butir (4) yang menyatakan bahwa gula kristal rafinasi sugar hasil industri yang berbahan baku impor gula mentah hanya dapat diperjualbelikan atau didistribusikan kepada industri dan dilarang diperdagangkan ke pasar di dalamnegeri.

“Kami meminta Satgas Ketahanan Pangan untuk melakukan pengawasan terhadap gula rafinasi yang ada di distributor maupun di pasar konsumsi,” tegas Dudi.

Demo Sales Importir Garam, FPMPB Juga Gelar Aksi Tabur Bunga eh Garam di Kantor Menteri Susi

Selain itu, APTRI Jabar juga mendesak Satgas Ketahanan Pangan untuk mengecek ke supermarket terkait gula yang diduga kamuflase dari gula rafinasi. Mereka pun mendesak pemerintah untuk tidak mengenakan PPN gula untuk petani.

“Kami menolak peredaran gula rafinasi baik yang ada di distributor maupun yangada di pasar konsumsi,” tegas Dudi.

Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan Koperasi dan UKM Kota Cirebon, Yati Rohayati yang menemui para petani tebu menyatakan bahwa aspek pengawasan merupakan kewenangan Pemprov Jabar. “Hari ini juga kami akan melayangkan surat kepada instansi terkait terkait tuntutan bapak-bapak (petani tebu),” tandas Yati. ( Republika Online )

Bagikan artikel ini :