Home Gaya Hidup Curcol di Sosial Media Bikin Stress dan Berbuah Uban

Curcol di Sosial Media Bikin Stress dan Berbuah Uban

968
0
Bagikan artikel ini :

Globalnews.co.id ( Jakarta ) — Buat yang suka curhat colongan ( curcol ) di sosial media, sebaiknya berpikir lebih dari dua kali, tiga empat kali juga boleh.  Kenapa? Karena dapat memicu stress. Kok bisa ?

Masih muda kok sudah ada ubannya? Pernah ketemu pertanyaan ( atau pernyataan ? ) seperti itu ? Kalau dulu uban dinotasikan sebagai ciri khas orang-orang jelang 50 tahunan, kini uban sudah menjadi bagian sebagian kalangan anak muda.

Apakah normal bila ada uban yang tumbuh sementara usia masih amat muda? Tentunya ada ‘sesuatu’ yang terjadi. Jangan disandingkan dengan orang-orang tua yang tetap hitam tanpa uban sehelaipun. Itupun besar kemungkinan ada ‘sesuatu’ juga di kepalanya.

Tumbuhnya uban tidak mengenal gender, baik pria atau wanita. Meski sepertinya masih didominasi kaum Adam dibanding Hawa.

Nah sobat-sobat muda ( yang merasa tua juga boleh baca ) yang suka curcol, apalagi di sosial media, selamat sobat sedang menimbun potensi tumbuhnya uban.

Bagaimana korelasi curcol-sosialmedia-stress dan uban? Yuk simak bareng-bareng. saya akan sajikan dengan mode retrospeksi alias dari depan ke belakang. ( alur mundur  gitu bro ).

Secara ilmiah uban terjadi karena tersendatnya produksi melanin yang menjadi sumber pigmen alami warna rambut.  Nah, ketika stress maka jumlah melanin yang dibutuhkan untuk mewarnai helai rambut jelas kurang dong. Akibatnya rambut tampak pucat alias memutih.

Sederhananya, stress bukan sahabat yang baik untuk produksi melanin, sebaliknya uban dipicu oleh stress. Sudah jelas ya.

Namun jangan khawatir, kalau stress nya hilang, tentunya produksi melanin balik normal lagi dan uban pun sungkan untuk muncul.

Terus apa hubungannya dengan curcol di sosial media terhadap stress?

Buat yang suka curcol di sosial media ( ngaku saja dalam hati, jangan di kotak komentar ya, nanti malah jadi curcol plus plus ), sebisa mungkin mengurangi kadar dan frekuensi curcolnya. Kalau perlu stop sama sekali.

Saat sobat curcol di sosial media, entah itu sambil berdoa di tembok ratapan facebook, atau buat status galau, tentunya ada keinginan untuk dapat respon. Bener kan?

Usai curcol apakah masalah selesai? Belum, karena sobat akan menunggu dan menunggu kemana para komentator yang akan mengaminkan atau turut berdukacita atas penderitaan.

Saat itulah sobat sedang menimbun faktor pemicu stress di alam bawah sadar. Ya, karena selama masa penantian yang tidak berujung ( kecuali akun sosial media nya ditutup ) itu sobat akan membuat rasa galau baru. Galau karena merasa tidak diperhatikan.

Nah lhooo. Saya menyebutnya ‘differensial stress’ alias ‘turunan dari stress’. Jadi ingat materi matematika.

Sampai disini korelasi antara curcol di sosial media = minta perhatian ( cenderung baper malahan ), tidak ada respon dan atau lama = rasa galau ( benih-benih cinta eh stress ), dan benih-benih stress yang ada akan tumbuh dan berkembang, sehingga memacetkan produksi melanin. Akibatnya terjadi kekurangan melanin dan yuuhuuu….selamat datang uban muda.

Penulis : Ibrahim
Redaktur Globalnews.co.id yang ngaku tidak punya tampang yang tampan apalagi tamfan

Bagikan artikel ini :