Home Afrika PBB Mendeteksi Upaya Genosida Terhadap Muslim di Republik Afika Tengah

PBB Mendeteksi Upaya Genosida Terhadap Muslim di Republik Afika Tengah

630
0
Bagikan artikel ini :

Globalnews.co.id ( Afika Tengah ) — Bentrokan baru-baru ini di Republik Afrika Tengah merupakan tanda peringatan genosida awal, demikian kata kepala bantuan PBB, Stephen O’Brien pada hari Senin (7/8/2017). Untuk itu dia meminta lebih banyak tentara dan polisi untuk meningkatkan misi penjaga perdamaian PBB di negara yang dilanda perselisihan tersebut.

Sekitar 180.000 orang diusir dari rumah mereka tahun ini, sehingga jumlah pengungsi di Republik Afrika Tengah (CAR) menjadi lebih dari setengah juta, kata Stephen O’Brien.

“Tanda-tanda peringatan dini genosida ada di sana,” kata O’Brien pada sebuah pertemuan PBB menyusul kunjungannya baru-baru ini ke Republik Afrika Tengah dan Republik Demokratik Kongo.

“Kita harus bertindak sekarang, tidak mengurangi usaha PBB, dan berdoa agar kita tidak menyesalinya.”

Muslim Afrika kembali ke CAR dan menemukan rumah mereka hilang

O’Brien mengatakan sudah waktunya untuk memberi otorisasi peningkatan pasukan dan polisi yang bertugas di pasukan penjaga perdamaian MINUSCA untuk memungkinkan misi tersebut “memberikan mandat perlindungan kritisnya”.

Kepala penjaga perdamaian PBB Jean-Pierre Lacroix pekan lalu mengatakan bahwa dia mempertimbangkannya permintaan ke Dewan Keamanan PBB untuk lebih banyak pasukan untuk MINUSCA.

Sebagai salah satu negara termiskin di dunia, CAR terjerumus ke dalam perang antara kelompok bersenjata Muslim dan Kristen pada tahun 2013. Hal itu terjadi ketika Presiden Francois Bozize digulingkan oleh sebuah koalisi kelompok perlawanan Muslim yang disebut Seleka.

Dukungan untuk Pasukan Perdamaian PBB

Kelompok Seleka ini kemudian digulingkan oleh intervensi militer yang dipimpin oleh mantan penguasa kolonial Prancis.

Kejadian tersebut memicu beberapa kekerasan sektarian paling berdarah dalam sejarah negara tersebut karena kebanyakan kelompok bersenjata Kristen melakukan pembalasan dendam.

Orang-orang Kristen, yang berjumlah sekitar 80 persen dari populasi, mengorganisir unit main hakim sendiri yang dijuluki “anti-balaka”, sebuah referensi untuk parang yang digunakan oleh kelompok Muslim.

Perserikatan Bangsa-Bangsa memiliki 12.350 tentara dan polisi di lapangan untuk membantu melindungi warga sipil dan mendukung pemerintahan Presiden Faustin-Archange Touadera, yang terpilih tahun lalu.

Sementara pemerintahan Touadera tetap memegang kendali di Bangui, otoritasnya lemah di luar ibukota tempat mantan kelompok Seleka dan pejuang anti-balaka melakukan perlawanan. S

embilan pemelihara perdamaian MINUSCA telah terbunuh tahun ini, membuat kekhawatiran bahwa negara tersebut kembali ke pertumpahan darah yang meledak pada tahun 2013 menyusul penggulingan Bozize.

O’Brien mengatakan bahwa dia merasa ngeri dengan kunjungan yang dia lakukan ke gereja Katolik di Kota selatan Bangassou dimana 2.000 umat Muslim mengungsi tiga bulan yang lalu, dikelilingi oleh pejuang Kristen anti-Balaka yang mengancam untuk membunuh mereka.

“Risikonya sangat tinggi dan kita harus fokus dengan benar apakah akan memindahkan mereka ke tempat lain atau tidak,” katanya.

Setengah dari populasi negara tersebut, atau 2,4 juta orang, membutuhkan bantuan pangan untuk bertahan hidup, populasi terbesar yang membutuhkan per kapita, katanya. Negara ini juga menampung setengah juta pengungsi.

“Risiko kambuhnya krisis kemanusiaan berskala besar kian dekat,” kata O’Brien. PBB sendiri hanya menerima 24 persen dari USD 497 juta yang diminta dalam permohonan kemanusiaan untuk Republik Afrika Tengah.

Bagikan artikel ini :