Home Nasional Dewan Pakar ICMI Pusat : Negara Cidera Jika Tersangka Jadi Pembaca Teks...

Dewan Pakar ICMI Pusat : Negara Cidera Jika Tersangka Jadi Pembaca Teks Pancasila di Acara Kenegaraan

751
1
Anton Tabah Digdoyo - Dewan Pakar ICMI Pusat, yang juga mantan Jenderal Polri
Bagikan artikel ini :

Globalnews.co.id ( Jakarta ) — Dua hari terakhir ini publik dan media riuh ramai membahas kabar bahwa pembacaan teks Pancasila saat upacara kenegaraan peringatan Hari Kemerdekaan RI ke 72, pada 17 Agustus 2017 yang akan datang dilakukan oleh tersangka korupsi e-KTP Trilyunan Rupiah, Setya Novanto yang juga ketua DPR RI tersebut.

Tentu saja, kening publik yang masih berakal sehat akan kembali dibuat berkerut. Ini lelucon apalagi ? Atau memang bukan lelucon tapi memang kondisi ‘akal sehat’ dari pihak-pihak terkait yang kesehatan akalnya ditakar dengan parameter yang berbeda ?

Menjunjung tinggi asas praduga sebelum tayang, Redaksi Globalnews.co.id setelah meminta tanggapan dari Dewan Pakar ICMI Pusat, dijawab oleh Anton Tabah Digdoyo yang juga mantan Jendral Polri sebagai berikut :

Jika yang diberitakan tersebut benar, maka hal ini adalah sangat menyedihkan, dan tentunya sangat memprihatinkan.

Itu berarti pemerintah rezim ini makin nyata tidak peka dengan etika moral bangsa yang sering ditunjukkan selama ini sungguh diluar akal sehat.

Seperti mengundang pembakar masjid Tolikara yang sedang disidik ke istana, mengajak terdakwa kasus penistaan agama, Ahok satu mobil dengan Presiden Jokowi padahal penista agama tersebut menjelang vonis hakim dan sebagainya.

Sebagai mana yang kita tahu dalil-dalil hukum universal, seseorang yang telah ditetapkan sebagai tersangka maka telah hilang sebagian hak-haknya.

Hal ini sepertinya tidak hanya harus digaris bawahi dan ditebalkan, namun tampaknya harus diulang-ulang penyampaiannya pada pengelola negara – red

Bahkan beberapa haknya telah dicabut, ditambah pencegahan dan pengekangan-pengekangan seperti pencekalan dalam berbagai hal dan lainnya.

Untuk yang ini sudah menjadi rahasia publik, kalau pengkondisian pengecualian berupa pengistimewaan berlaku pada tersangka dan terdakwa Basuki Tjahja Purnama alias Ahok. Publik pun tidak perlu dibodohi dengan segala macam aksesoris dan bumbu-bumbu penyedap imitasi – red.

Apalagi membaca teks Pancasila di upacara kenegaraan di Istana acara tahunan sangat penting. Nalar dan akal sehat sebagai bangsa mana pun tidak akan bisa menerima.

Semoga penguasa rezim ini mampu berpikir bersikap dan bertindak dengan akal sehat dan hati nurani. Karena negara akan cidera jika biarkan tersangka menjadi pembaca teks ideologi negara Pancasila, demikian tegas Anton Tabah Digdoyo yang juga pembina HMI tersebut.

Bagikan artikel ini :

1 COMMENT

Comments are closed.