Home Eropa & Amerika Kembali Dilantik, Presiden Iran Bersumpah Akhiri Sanksi Baru dari Amerika

Kembali Dilantik, Presiden Iran Bersumpah Akhiri Sanksi Baru dari Amerika

420
1
Rouhani, 68, memenangkan pemilihan Mei 2017 dengan sebuah kampanye yang menjanjikan untuk memulihkan hubungan dengan Barat [EPA]
Bagikan artikel ini :

Globalnews.co.id ( Teheran ) — Kembali dilantik, Presiden Iran bersumpah akhiri sanksi baru dari Amerika. Presiden Iran Hassan Rouhani bersumpah untuk melanjutkan upayanya untuk mengakhiri isolasi negara tersebut saat dilantik untuk masa jabatan kedua, sehari setelah Presiden AS Donald Trump menandatangani sebuah undang-undang yang meningkatkan sanksi terhadap Iran.

“Kami tidak akan pernah menerima isolasi,” Rouhani mengatakan kepada sejumlah audien dari pejabat politik dan militer Iran di Teheran pada hari Kamis (3/8/2017).

“Kesepakatan nuklir adalah tanda niat baik Iran di pentas internasional,” katanya, mengacu pada kesepakatan 2015 untuk mengekang program atomnya dengan imbalan pelonggaran sanksi. AS menyetujui kesepakatan dengan kekuatan dunia termasuk Rusia, Inggris, Prancis, China dan Jerman.

Rouhani, seorang pria berusia 68 tahun yang mendapat kritikan sengit dari kaum konservatif atas upayanya membangun kembali hubungan dengan Barat, mengeluarkan seruan untuk persatuan.

Trump, yang selama kampanye pemilihannya tahun lalu menyebut kesepakatan nuklir 2015 “kesepakatan terburuk yang pernah ada”, pada hari Rabu(2/8/2017) menandatangani sanksi baru menjadi undang-undang, bersamaan dengan tindakan melawan Rusia dan Korea Utara. Kesepakatan tersebut telah dinegosiasikan oleh pemerintahan Barack Obama, mantan presiden AS.

Baca : Luncurkan Roket Ruang Angkasa, Iran Dikasih Sanksi Baru dari AS

Pelanggaran Kesepakatan Nuklir

Iran telah mengatakan akan mengajukan aduan kepada badan yang mengawasi kesepakatan mengenai langkah-langkah baru tersebut, yang disahkan di Kongres A.S pekan lalu sebagai tanggapan atas dugaan program pengembangan rudal dan pelanggaran hak asasi manusia.

Seorang pejabat Iran mengatakan pada hari Selasa(1/8/2017) bahwa sanksi baru A.S melanggar persyaratan kesepakatan nuklir.

Baca juga : Abaikan Sanksi AS, Program Rudal Iran Dilanjutkan dengan Kekuatan Penuh

“Menurut pandangan kami, kesepakatan nuklir telah dilanggar dan kami akan menunjukkan reaksi yang sesuai dan proporsional terhadap masalah ini,” kata Deputi Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi dalam sebuah wawancara dengan kantor berita TV, menurut kantor berita ISNA.

Bilamana Rusia bereaksi terhadap sanksi tersebut dengan mendepak staf kedutaan AS, Iran tidak memiliki hubungan diplomatik atau hubungan dagang langsung dengan AS sehingga opsi pembalasannya terbatas.

Terkait : Respon Sanksi, Rusia Akan Usir 755 Diplomat Amerika

“Tujuan utama Amerika dalam menyetujui sanksi ini terhadap Iran adalah untuk menghancurkan kesepakatan nuklir dan kami akan menunjukkan reaksi yang sangat cerdas terhadap tindakan ini,” kata Araqchi.

“Kami pasti tidak akan bertindak dengan cara yang membuat kami terjerat dalam politik pemerintahan Amerika dan Trump.”

Langkah Trump sepertinya akan memberkati kritikus garis keras yang mengatakan kesepakatan nuklir itu adalah bentuk kapitulasi.

Perundang-undangan AS memberlakukan hukuman wajib pada orang-orang yang terlibat dalam program rudal balistik Iran. Ini juga akan menerapkan sanksi kepada Garda Revolusi Iran dan memberlakukan embargo senjata.

sumber : Al Jazeera
editor : Ibrahim

Bagikan artikel ini :

1 COMMENT

Comments are closed.