Home Bisnis Rugi di Semester Pertama, Garuda Indonesia Optimis Bukukan Laba US$12 Juta per...

Rugi di Semester Pertama, Garuda Indonesia Optimis Bukukan Laba US$12 Juta per Bulan

524
1
Bagikan artikel ini :

Globalnews.co.id ( Jakarta ) – Rapor PT Garuda Indonesia Tbk (GIIA) hingga semester pertama 2017 masih merah. Enam bulan pertama 2017, maskapai penerbangan pelat merah ini menderita rugi bersih sebesar US$281,92 juta atau sekitar Rp3,7 triliun, melonjak 343,33 persen dibandingkan rugi bersih pada semester pertama 2016 yang sebesar US$63,59 juta.

Direktur Utama Garuda Indonesia Pahala Mansury mengatakan sebagian kerugian itu berasal dari pembayaran tebusan amnesti pajak dan denda atas kasus persaingan usaha di Australia.

“Masing-masing untuk tax amnesty biayanya US$137 juta dan kasus di Australia (dugaan kartel) AUD10 juta,” kata Pahala, Kamis (27/7/2017).

Pahala melanjutkan rugi bersih perseroan pada kuartal II saja tercatat sebesar US$184 juta, naik hampir dua kali lipat dibandingkan kuartal I sebesar US$99 juta. Menurut Pahala, bila tanpa pembayaran amnesti pajak dan denda di Australia, maka jumlah rugi perseroan sebenarnya terbilang turun, yakni sebesar US$38 juta.

“Kondisi ini kami katakan lebih baik, tinggal US$38 juta atau per bulannya kurang lebih sekitar US$12,5 juta,” jelas Pahala.

Kendati merugi, kata Pahala, perusahaan membukukan kenaikan pendapatan sebesar US$1,88 miliar dari sebelumnya US$1,76 miliar. Pendapatan terbesar berasal dari penerbangan berjadwal yang mencapai US$1,63 miliar.

Sayangnya, kenaikan pendapatan tersebut diiringi kenaikan beban perusahaan dari US$1,81 miliar menjadi US$2,11 miliar. Menurut Pahala, salah satu beban terbesar perusahaan, berasal dari pembelian avtur yang meningkat hingga 36,5 persen (yoy) mencapai US$571,1 juta.

“Salah satu kendala biaya avtur kami, peningkatan 36,5 persen. Cukup tajam,” kata Pahala.

Diakuinya harga avtur memang tidak lepas dari harga minyak mentah dunia. Sehingga, pihaknya akan melakukan beberapa strategi efisiensi sebesar US$100 juta pada semester II ini. “Kami mau renegosiasi dengan supplier, perpanjang waktu tenor. Fuel sudah bicara dengan supplier agar bisa efisiensi,” jelas dia.

Meski semester pertama merugi, Dia optimistis perseroan dalam enam bulan ke depan dapat membukukan laba US$12 juta per bulan. Tren perbaikan ini dinilainya mulai terlihat pada kuartal II 2017.

“Kuartal sebelumnya rugi US$12 juta per bulan, enam bulan kemudian optimis bukukan per bulan US$12 juta,” tuturnya.

sumber : swamedium

Bagikan artikel ini :

1 COMMENT

Comments are closed.