Home Nasional Hari Ini, 14 Juli 2017 Telegram Resmi Diblokir Kementerian Komunikasi dan Informatika

Hari Ini, 14 Juli 2017 Telegram Resmi Diblokir Kementerian Komunikasi dan Informatika

1039
3
Bagikan artikel ini :

Globalnews.co.id ( Jakarta ) — Hari ini 14 Juli 2017 akan menjadi hari bersejarah bagi pengguna sosial media ketika Telegram secara resmi diblokir Kementerian Komunikasi dan Informatika ( Kemkominfo ). Hal ini ditandai dengan permintaan Kemkominfo kepada Internet Service Provider (ISP) memblokir 11 situs yang dinilai mengandung konten ilegal. Permintaan itu tertuang dalam sebuah rilis melalui surat elektronik bersubjek “271. [Sangat Segera] Penambahan Database TRUST+ Positif 14 Juli 2017”. Dalam rilis tersebut, Kominfo meminta para ISP segera menambahkan daftar ke-11 situs tersebut ke dalam sistem filter mereka.

11 situs yang diminta diblokir tersebut merupakan situs-situs internet yang berhubungan dengan Telegram : t.me, telegram.me, telegram.org, core.telegram.org, desktop.telegram.org, macos.telegram.org, web.telegram.org, venus.web.telegram.org, pluto.web.telegram.org, flora.web.telegram.org, flora-1.web.telegram.org.

TRUST+ Positif
TRUST+ Positif merupakan sebuah mekanisme server terpusat yang menjadi acuan informasi-informasi yang dapat ataupun tidak diakses oleh masyarakat. Dalam lama resmi TRUST+ Positif, disebutkan bahwa diciptakannya mekanisme tersebut ditujukan untuk menciptakan internet aman dan sehat, melindungi masyarakat terhadap nilai atau norma yang tidak sesuai bangsa Indonesia, serta melakukan penghemetan terhadap pemborosan penggunaan akses internet.
Dengan demikikan maka Telegram resmi tercatat dalam daftar terblokir di Trust+ Positif.

Noor Iza, Kepala Biro Hubungan Masyarakat Kementerian Komunikasi dan Informatika, saat dimintai konfirmasinya, membenarkan perihal permintaan yang dibuat oleh Kominfo tersebut.

Hal ini dipertegas oleh Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara membenarkan penutupan situs tersebut. “Iya betul ditutup karena mengandung konten radikalisme seperti mengajarkan orang cara membuat bom” jelas Rudi.

Karpet Merah Pemblokiran Telegram

Rudi mengungkapkan pihaknya telah memberi “karpet merah” kepada tiga lembaga untuk menginisiasi pemblokiran terhadap situs-situs yang mengandung konten radikalisme dan terorisme. Ketiga lembaga itu adalah kepolisian, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), dan Badan Intelejen Negara (BIN). “Kominfo memberi ‘karpet merah’ kepada tiga institusi: kepala polri, BNPT, dan BIN,” ujar Rudi

“Karpet Merah” yang dimaksud Rudi adalah kemudahan bagi tiga institusi tersebut dalam mengusulkan pemblokiran situs yang mengandung konten radikalisme dan terorisme. Artinya proses pemblokiran tidak perlu melalui penelitian tim Panel Penilai sebagaimana diatur dalam Keputusan Menteri Nomor 90 tahun 2015. “Proses pembatasan aksesnya (blokir) tidak berkepanjangan. Bisa cepat tidak perlu ke saya,” katanya.

Namun Rudi belum bisa memastikan mana tiga institusi tersebut yang menginisiasi pemblokiran sejumlah situs milik Telegram. “Kalau itu (yang menginisiasi) saya belum tahu,” ujarnya.

Selain memblokir situs-situs milik Telegram, Rudi mengatakan pihaknya juga sedang mempertimbangkan penutupan aplikasi Telegram. Salah satu alasan yang menjadi pertimbangan adalah karena Telegram tidak memiliki perusahaan perwakilan di Indonesia. Sehingga, kata Rudi, Telegram tidak terikat pada aturan hukum yang berlaku di Tanah Air.

“Kalau kerjasamanya tidak bisa ditingkatkan, service levelnya tidak bisa diperbaiki, kami mempertimbangkan untuk menutup platformnya. Mereka tidak punya kantor di sini. Platform lain ada,” ujarnya.

Namun, sebelum menutup Telegram, Rudi menyatakan pihaknya akan berkomunikasi terlebih dahulu dengan pihak Telegram. “Semua platform kami komunikasikan supaya lebih baik,” katanya.

Bagikan artikel ini :

3 COMMENTS

Comments are closed.