Home Opini/Artikel Kisah Bom Panci dan Teroris Ndeso

Kisah Bom Panci dan Teroris Ndeso

683
0
Bagikan artikel ini :

Globalnews.co.id ( Jakarta ) — Kisah Bom Panci dan Teroris Ndeso. Untuk kesekian kalinya panci naik pamor. Kali ini tukang bakso dituding hendak meledakkan gereja di Bandung berbekal bom panci yang ternyata meledak duluan karena ditengarai salah mensetting timer. Bom meledak di rumah kontrakannya. Jangankan merubuhkan rumah petakannya, dinding rumahnya pun sama sekali tidak lecet. Entah, bagaimana prosesnya. Mungkin bom panci yang prematur itu termasuk generasi lemot, seperti halnya rudal RRC yang baru meledak setelah satu jam diluncurkan. Sungguh, ini rudal pintar yang memberi waktu luang satu jam bagi musuh untuk membalas dengan rudal tidak pintar. Anehnya, masih saja ada pihak yang ngotot membeli alutsista dari rezim komunis terbesar di dunia dewasa ini.

Kembali ke bom panci. Ternyata ada juga efek yang ‘mengerikan’ seperti yang meledak di dekat Halte Busway Kampung Melayu beberapa waktu lalu. Bom pancinya ada dua. Satu bom panci menyebabkan ada bagian tubuh manusia, diduga kuat pelaku, yang terserak. Yang satu lagi mungkin low eksplosif, meledak di dekat parkiran motor namun motor yang cuma berjarak satu meter ternyata sehat-sehat saja. Untung saja, perusahaan jenis motor yang ada di dekat ledakan tersebut tidak menggunakan momen ini sebagai pendongkrak penjualan. Mereka mungkin tidak sampai hati berpromosi “Motor anti bom panci”.

Lucunya, ada berita jika pernah ada tukang panci asli yang ditangkap aparat gegara menyimpan banyak panci. Dia dicurigai sebagai anggota jaringan bom panci. Lah, tukang panci memang logis menyimpan banyak panci. Masak tukang panci menimbun BBM, ya gak nyambung kan?

Terkait pelaku, yang dituding sebagai teroris jaringan kelas dunia, mungkin ini harus dikaji ulang. Jika teroris kelas dunia, buat apa dia meledakkan halte busway? Jika dia teroris kelas dunia, buat apa pakai wadah panci sebagai bom. Bukankah panci lebih enak dipakai untuk masak opor ayam? Atau semur jengkol?

Jelas, kalau ini benar kelakuan teroris, maka teroris bukan kelas dunia, tapi Teroris Ndeso. Kenapa Ndeso?

Pertama, bahan yang dipakai untuk dirangkai menjadi bom sama sekali tidak bonafid. Tidak bermutu. Asal-asalan, walau bisa juga membunuh.

Kedua, target pembomannya juga tidak mutu alias ngawur. Ngapain meledakkan halte busway. Jelas gak ada koruptor sama pejabat di sana. Yang ada aparat rendahan yang tidak tahu apa-apa selain mengabdi kepada negara. Kasihan.

Namun kita di sisi lain juga jangan meremehkan panci. Karena bisa jadi ini bukan panci lokal, namun panci yang diekspor dari luar negeri. Keren kan? Lho, ngapain impor panci, bukankah di negeri ini bikin kapal perang saja sudah bisa, malah diekspor segala. Hehe.. jangan heran. Bagi negeri yang tega mengimpor cangkul, mengimpor panci juga bisa mendatangkan profit bernilai besar. Bagi rezim pedagang, apa pun yang bisa mendatangkan laba akan dilakukan. Ini prinsip mereka nomor wahid.

Lagi-lagi kita sebagai rakyat kecil yang tidak tahu apa-apa cuma bisa berharap, mudah-mudahan para pemimpin negeri ini bisa amanah. Bisa membedakan mana kebenaran dan mana kebejatan. Rakyat yang selalu tulus selalu mendoakan kepada pemimpinnya agar selalu menunjukkan jalan ke surga, bukan malah menunjukkan arah ke neraka. Jika cuma bisa menunjukkan jalan ke neraka, itu jelas pekerjaan iblis. Dan pemimpin kita bukanlah yang seperti itu. Wallahu’alam bishawab. [EraMuslim]

Bagikan artikel ini :