Home Fokus Dewan Pakar ICMI Pusat: Menghapus Pendidikan Agama Di Sekolah-sekolah Adalah Kesalahan Besar

Dewan Pakar ICMI Pusat: Menghapus Pendidikan Agama Di Sekolah-sekolah Adalah Kesalahan Besar

2035
0
Wakil Ketua Komisi Hukum MUI Pusat, Anton Tabah Digdoyo
Bagikan artikel ini :

Globalnews.co.id (Jakarta) – Pada Raker Komisi X, Selasa (13/06/2017), Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhajir Effendi mengungkapkan di tahun ajaran yang akan datang, 2017/2018, bahwa pelajaran madrasah diniyah bisa mengkonversi pelajaran agama. Selanjutnya, sekolah dapat mengajak siswa belajar di masjid, madrasah maupun rumah ibadah ataupun mendatangkan guru madrasah ke sekolah.

Menurut Mendikbud Muhadjir Effendy, jika sudah dapat pelajaran agama di luar kelas, otomatis pelajaran tersebut bisa melengkapi pendidikan agama di dalam kelas, seperti dilansir republika.co.id, Selasa (13/06/2017)

Menanggapi hal ini, Anton Tabah Digdoyo, Dewan Pakar ICMI Pusat mengungkapkan keheranannya, “heran kok orang mudah tertular pola pikir sekuler liberal walau dengan alasan pendidikan agama di rapor siswa akan diambil dari pendidikan di madrasah, masjid, pura, gereja,” ujar Anton.

Ia juga mengatakan Mendikbud harus cermat buat kebijakan. “Dulu ada ide hapus doa agama di sekolah saja rakyat marah, apalagi ini akan hapus pendidikan agama di sekolah,” ungkap Anton.

Selain itu, Wakil Ketua Komisi Hukum MUI Pusat ini juga mengatakan gagasan ini bertentangan dengan Undang-Undang No.20 th.2003 tentang sisdiknas Pasal 12 ayat (1) butir a, di mana mengamanatkan bahwa setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pendidikan agama yang dianutnya dan diajarkan oleh pendidik seagama. “UU tersebut tegas kewajiban beri pendidikan agama itu pada tiap jenjang atau satuan Pendidikan. Pengertian Satuan Pendidikan dalam UU ini tertulis di ketentuan umum kelompok layanan pendidikan formal, nonformal, informal tiap jenjang dan jenis pendidikan hak mendapat pendidikan agama melekat pada setiap siswa, pihak sekolah pengelola pendidikan wajib memberikan pendidikan agama,” lanjut Anton.

Anton mengatakan masih banyak masalah pendidikan yang belum tertangani, misalnya sarana pendidikan, tenaga ajar, ujian akhir sekolah, kurikulum 2013 dll. “Mendikbud lebih baik fokus siapkan siswa-siswi berprestasi fisik mental, jasmani dan rohani seperti tujuan NKRI, bangunlah jiwanya bangunlah badannya untuk Indonesia Raya,”tutur Anton

Khawatirnya, Ide Mendikbud ini disadari atau tidak adalah sekularisasi di sekolah-sekolah, nanti berlanjut penghapusan doa keagamaan di sekolah bahkan penghapusan atau pelarangan waktu-waktu sholat di sekolah dsb. “Waspadalah dengan upaya sekularisasi itu sangat berbahaya dan NKRI bisa tinggal sejarah,” imbuhnya. (red)

Bagikan artikel ini :