Home Internasional Qatar Minta PBB Selesaikan Pemboikotan “Ilegal”

Qatar Minta PBB Selesaikan Pemboikotan “Ilegal”

478
0
Bagikan artikel ini :

Globalnews.co.id (Jakarta)- Qatar Airways pada hari Senin (12/6/2017) meminta badan penerbangan PBB untuk mengumumkan bahwa pemboikan Teluk terhadap maskapai mereka “ilegal” dan merupakan sebuah pelanggaran terhadap konvensi 1944 tentang transportasi udara internasional.

Keempat negara Teluk tersebut juga telah memberi waktu dua pekan bagi warga negara Qatari untuk pulang kembali ke Qatar dan melarang Qatar melakukan transit melalui bandara mereka.

Dalam wawancara di televisi pada hari Senin, CEO Qatar Airways Akbar Al Baker menyebut langkah tersebut sebagai “blokade ilegal” dan mendesak cabang penerbangan sipil Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk campur tangan.

Organisasi Penerbangan Sipil Internasional “harus terlibat secara serius, menempatkan diri mereka di belakang untuk menyatakan bahwa tindakan ini ilegal,” katanya kepada CNN Money dan dilansir jurnalislam.com.

Baker mengatakan bahwa tindakan tersebut melanggar Konvensi Penerbangan Internasional Sipil tahun 1944, yang bertugas mengawasi dan mengatur penerbangan internasional.

Arab Saudi bukanlah penandatangan konvensi tersebut.

Dalam sebuah wawancara dengan Al-Jazeera English, Baker juga mengecam keras Presiden AS Donald Trump.

“Kami mengharapkan teman-teman kita untuk berdiri bersama kita dalam blokade ilegal tidak adil yang dilakukan oleh empat negara ini,” kata sang CEO kepada Al-Jazeera.

“Saya ingin rakyat Amerika menyadari bahwa mereka mencoba mengintimidasi sebuah negara kecil yang memiliki hubungan terdekat dengan Amerika Serikat,” kata Baker.

“Saya pikir komentar Presiden Trump tentang negara saya tidak tepat, kurang mendapat informasi, dan saya dapat mengulangi lagi bahwa saya sangat kecewa padanya.”

Trump pada hari Ahad menuduh Qatar mendanai ekstremis, mendukung Arab Saudi dan sekutu-sekutunya dalam krisis Teluk terburuk selama bertahun-tahun.

Sebagai bagian dari tindakan melawan Qatar, Al-Jazeera juga telah diblokir di Arab Saudi, UEA, Mesir dan Bahrain. (R*t)

Foto: internet

Bagikan artikel ini :