Home Daerah LBH Gugat Anggota Kepolisian Polda Metro Jaya Terduga Penganiayaan

LBH Gugat Anggota Kepolisian Polda Metro Jaya Terduga Penganiayaan

756
0
Bagikan artikel ini :

globalnews.co.id (Jakarta) – Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Senin, 29 Mei 2017, berencana menggelar sidang Praperadilan Nomor: 56/Pid.Pra/2017/PN.JKT.SE, tentang permohonan gugatan praperadilan yang dilakukan oleh Erianto, Aris dan Bihin bersama LBH Jakarta sebagai kuasa hukumnya.

Gugatan praperadilan tersebut dilakukan, menurut keterangan tertulis yang dikeluarkan oleh LBH Jakarta, karena Penetapan tersangka, penangkapan, penahanan, penggeledahan dan penyitaan yang dilakukan oleh anggota kepolisian Polda Metro Jaya, dianggap telah melanggar ketentuan sebagaimana diatur dalam KUHAP.

Lebih lanjut dijelaskan, bahwa Herianto, Aris dan Bihin, warga kelahiran Palembang yang merantau ke Jakarta untuk mengadu nasib itu, pada 7 April 2017, mereka ditangkap oleh anggota kepolisian Polda Metro Jaya atas tuduhan pencurian dan penadahan motor yang terjadi pada bulan Juni 2017.

Awalnya, pada 7 April 2017, saat Aris dan Bihin sedang mengambil uang ditangkap oleh anggota kepolisian Polda Metro Jaya, Penangkapan tersebut diikuti dengan penyitaan barang-barang milik Aris dan Bihin yaitu beberapa telepon genggam dan dompet.

Kemudian, anggota kepolisian Polda Metro Jaya membawa mereka ke kontrakan untuk melakukan penggeledahan. Herianto yang merupakan teman sekontrakan Bihin menyaksikan penggeledahan, barang-barangnya disita dan kemudian ikut dibawa bersama Aris dan Bihin.

Ketiganya kemudian dibawa ke suatu tempat dengan kondisi mata dilakban, dimana mereka disiksa untuk mengaku melakukan tindakan pencurian dan penadahan motor. Penyiksaan dilakukan berhari-hari hingga akhirnya Herianto, Aris dan Bihin tidak sanggup menahan siksaan tersebut dan mengikuti kemauan polisi.

Atas tindakan aparat kepolisian itulah, Herianto, Aris dan Bihin bersama LBH Jakarta sebagai kuasa hukumnya menggugat Polda Metro Jaya melalui permohonan praperadilan.

Seorang wanita yang merupakan istri dari salah satu terduga korban penyiksaan oleh polisi menangis saat menceritakan kejadian yang dialaminya. Ia adalah Zulia (27), istri dari Aris (33). Adapun Aris merupakan satu dari tiga orang warga Tangerang yang mengaku disiksa dan dipaksa penyidik kepolisian di Polda Metro Jaya untuk mengaku sebagai pelaku pencurian motor yang terjadi pada Juni 2016.

Dua orang lainnya adalah Herianto (21) dan Bihin (39). Zulia menangis saar menceritakan ketika ia pertama kali menjenguk suaminya di tahanan Mapolda Metro Jaya pada 11 April 2017. Aris beserta Herianto dan Bihin diketahui ditangkap pada 7 April 2017. “Kami melihat di sana dia sudah babak belur. Saya enggak sanggup lagi melihat wajahnya,” ucap Zulia saat ditemui di Kantor LBH Jakarta, Minggu (28/5/2017).

Zulia mengatakan, saat itu banyak luka yang terlihat di tubuh Aris, mulai dari kepala hingga tangan.
Berdasarkan keterangan Aris, kata Zulia, sang suami disiksa oleh polisi, dari mulai pemukulan jempol kaki dengan palu hingga pemukulan kepala dengan pistol.

“Dia diancam mau ditembak. Suami saya (bilang) ‘Kalau memang salah, silakan tembak, Pak”, tetapi polisinya tidak mau tembak kepala suami saya,” kata Zulia sambil menyeka air matanya. Dalam kesehariannya, Aris berprofesi sebagai sopir bus kota. Demikian pula dengan Bihin. Sementara itu, Herianto berprofesi sebagai montir.

Ketiganya sama-sama berasal dari Palembang, Sumatera Selatan. Ketiganya saat ini mendekam di tahanan Mapolda Metro Jaya pasca-ditetapkan sebagai tersangka kasus curanmor yang terjadi pada Juni 2016. Karena tak merasa bersalah dan tidak terima atas serangkaian penyiksaan yang dialami, ketiganya mengajukan gugatan pra-peradilan yang sidang pertamanya akan dilaksanakan pada Senin (29/5/2017) besok dengan agenda pembacaan permohonan praperadilan. “Kami orang kecil hanya ingin minta keadilan,” ucap Zulia. (Sla)

Bagikan artikel ini :