Home Kolom Adik-adikku, Jangan Coret-coret Baju!

Adik-adikku, Jangan Coret-coret Baju!

2074
0
Bagikan artikel ini :

Oleh: Muhammad Najib*
(Alumnus Madrasah Aliyah Darul-Huda Mlagen-Pamotan-Rembang, Jawa Tengah, Tinggal di Jakarta)

Tepat pada tanggal 2 Mei 2017 lalu, beranda face book saya dipenuhi oleh aksi “brutal” adik-adik yang baru saja dinyatakan lulus dalam ujian nasional (UN). Mereka (tentu saja tidak semua lulusan) merayakan kelulusan dengan coret-coret baju (coret-coret baju yang dimaksud juga meliputi agenda seperti konvoi, coret-coret tembok, dan sejenisnya). Padahal, tidak ada satu elemen lembaga pendidikan yang membolehkan aksi amoral itu. Seolah mereka (yang merayakan kelusan dengan hura-hura) tidak memahami secara baik dan benar nilai-nilai yang diajarkan ketika dibangku sekolah. Ini, sekali lagi, tidak hanya mencoreng nama baik sekolah yang bersangkutan, melainkan juga “memalukan” lembaga pendidikan yang selama ini digadang-gadang garda terdepan dalam mencetak generasi yang berakhlak mulia.
Jika ditelisk lebih dalam, ada beberapa latar belakang mengapa tradisi coret-coret baju masih tumbuh subur di negeri yang masyaratkatnya terkenal agamis ini. Pertama, warisan para lulusan terdahulu. Di era tahun 60-an atau 70-an, lulus SMA/STM/MA/SMEA/SGO dan sebagainya adalah termasuk prestasi yang ‘wah’. Hal ini dikarenakan, pada saat itu, warga negara yang mampu menyelesaikan studi sampai lulus SMA sederajat sangatlah sedikit. Sehingga, ketika mereka lulus ‘patut’ dirayakan. Salah satub tradisi yang dibangun kala itu adalah coret-coret baju, konvoi, dan lain sebagainya. Tradisi seperti ini nampaknya sedikit relevan dengan zaman—meskipun tetap tidak etis dilakukan.
Ternyata, pameran kelulusan itu masih terjadi dewasa ini. Padahal, saat ini, lulus SMA sederajat tidaklah ‘wah’ (lagi). Namun, orientasi pameran kelulusan di era dulu dengan sekarang sudah berbeda. Dahulu dirayakan karena berhasil meraih prestasi, akan tetapi saat ini lebih mengarah pada kesenangan semu belaka. Selain itu, para lulusan (alumnis) seringkali bercerita kepada adik-adiknya terkait serunya lulusan dengan cara konvoi, coret-coret baju, bahkan sampai pesta seks.
Ditambah lagi, alumnus selalu bercerita bahwa jika pengumuman kelulusan tidak dirayakan, maka semua itu hanya sunyi, seperti kuburan, katanya. Dari sinilah rantai pameran kelulusan dengan berbagai macam cara dilakukan secara terus-menerus pada setiap tahunnya.
Kedua, anggapan bahwa lulus SMA adalah seuatu yang luar biasa dan hebat. Anggapan seperti ini, secara langsung maupun tidak langsung, akan melahirkan fikiran dan tindakan bahwa kelulusan harus bahkan ‘wajib’ dirayakan semeriah mungkin, bahkan harus dipertontonkan kepada semua orang. Alhasil, coret-coret baju sambil konvoi keliling kota menjadi agenda utama.
Pola pikir seperti ini masih saja dipelihara oleh sebagian besar pelajar di Indonesia. Mereka hanya mampu berfikir jangka pendek. Bahkan, tak jarang dari mereka yang mendesain motor sejak jauh-jauh hari, yakni dengan membuat suara knalpot keras. Tujuannya jelas, menunjukkan kepada masyarakat di jalan bahwa mereka telah meraih ‘prestasi’. Anggapan dan tujuan semacam ini tentu kurang tepat, jika tidak ingin dikatakan pantas ditertawakan. Sebab, lulusan SMA atau ijazah SMA saat ini tidak bernilai apa-apa, jika tidak ingin dikatakan “tidak layak jual’. Terkait hal ini, ada masyarakat kritis yang menaggapi aksi tersebut begini: “ Gitu aja kok bangga, yang lulusan Sarjana aja biasa-bisa aja.”
Ketiga, lemahnya penegak hukum atau aparatur hukum. Tidak dapat disangkal lagi bahwa banyak masyarakat yang resah akibat adanya konvoi keliling kota untuk pameran kelulusan yang baru saja diumumkan oleh pihak sekolah. Hal ini sangat logis mengingat kebanyakan konvoi seperti ini menghalang-halangi pengguna jalan lainnya. Selain itu, suara motor atau kendaran yang mereka gunakan konvoi seringkali membuat bising warga. Terkait ini, di Pati Jawa tengah, ada siswa meninggal akibat di keroyok pemuda desa karena mbleyer-mbleyer motornya. Dalam konteks seperti ini, harusnya penegak hukum tegas menindak para pelajar yang coret-coret baju dan konvoi yang menganggu ketertiban umum.
Memutus Rantai
Tradisi coret-coret baju dan sejenisnya harus dienyahkan dalam dunia pendidikan. Sebab, selain tidak sesuai dengan nilai-nilai universal yang diajarkan kepada siswa, tindakan amoral itu juga dapat mencoreng lembaga pendidikan secara keseluruhan, sekalipun itu tidak dilakukan oleh semua sekolah yang ada di negeri ini. Itulas sebab, sekali lagi, semua elemen, mulai dari pemerintah, guru, orang tua, dan siswa itu sendiri harus menancapkan betul bahwa tindakan coret-coret baju tidak ada manfaatnya sedikitpun dan itu harus dihapus. Sebab, yang demikian itu ditakan israf (berlebihan) dan itu dilarang oleh agama (QS. Al-A’raf:31).
Terlepas dari semua itu, ada beberapa langkah yang harus ditempuh guna memutus rantai tradisi coret-coret baju, sebagai bentuk pameran kelulusan yang cenderung mendepankan nilai hura-hura itu. Pertama, pihak sekolah harus tegas menindak siswanya yang terbukti melakukan hura-hura sebagai ekpresi kelulusan. Kepala sekolah dalam hal ini bisa mengambi langkah tegas, misalnya, tidak mengeluarkan ijzah orang atau siswa yang bersangkutan. Memang, langkah semacam ini tidak ada dalam regulasi, hanya saja ini adalah langkah atau inisitif kepala sekolah itu sendiri.
Kedua, menanamkan sikap biasa-biasa saja ketika dalam menghadapi Ujian Nasional (UN). Penulis mengkritisi sebagian besar sekolah yang mengagendakan do’a bersama menjelang detik-detik pelaksanaan UN, seperti istiqosah, tahlil, dan sebagainya. Artinya, tahlilan, istiqosah, dan sejenisnya dilakukan rutin, setiap satu bulan sekali, misalnya. Jadi, tidak hanya dilakukan menjelang UN saja. Sebab, secara langsung, acara seperti, tahlilan, istiqosah, dan sejenisnya itu (tanpa mengurangi nilai spiritualnya) justru akan memantik pikiran siswa bahwa UN adalah momok yang menakutkan, sehingga harus berdo’a ekstra (pra-UN berdo’a kencang, pasca UN lupa berdo’a). Jika siswa sudah menganggap bahwa UN adalah momok menakutkan, maka ketika pengumuman kelulusan dibacakan, maka siswa yang lulus akan melampiaskan kegembiraannya dengan coret-coret baju, itu sudah lazim terjadi. Berbeda jika pihak sekolah menyikapi sekaligus menghadapi UN dengan cara biasa-bisa saja, maka siswa akan biasa-biasa juga, termasuk cara merayakan kelulusan.
Mengakhiri uraian ini, sebagai sosok yang dulu pernah mengenyam jenjang bangku sekolah menengah atas, saya berpesan kepada adik-adikku tersayang, bahwa rayakan ‘kemenanganmu’ dengan sesuatu yang bermanfaat dan seperti apa yang diajarkan guru-gurumu ketika di bangku sekolah, misalnya, mendorong atau ‘memprovokasi’ warga agar anak-anaknya bersekolah, minimal seperti kamu (lulus SMA). Selain itu, janganlah coret-coret baju. Sebab, baju yang kamu gunakan semasa menjadi siswa SMA itu dapat disedekahkan kepada adik-adikmu, ini juga sesuai dengan akhlak mahmudah yang diajarkan guru kamu. Ini juga akan membuat kakakmu ini (penulis-red) bangga pada kalian, perasaan yang sama pasti juga dirasakan oleh orang tua dan segenap guru yang mendidik kalian. Wallahu a’lam bi al-shawab.

Foto: Internet

Bagikan artikel ini :