Home Opini/Artikel Rekonstruksi Pemahaman Keislaman

Rekonstruksi Pemahaman Keislaman

913
0
Bagikan artikel ini :

Islam adalah agama dengan jumlah penganut terbesar di dunia. Perkembangan Islam dapat dikatakan selalu mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Sebab, di tengah maraknya para pemeluk agama meninggalkan ajaran agamanya, di saat yang sama pemeluk Islam semakin bertambah banyak, mulai dari kalangan yang mempercayai keberadaan Tuhan sampai yang tidak mempercayai keberadaan Tuhan/ateis. Di tepi lain, ada pula pemeluk Islam yang meninggalkan agamanya, namun dalam jumlah yang relatif sedikit. Itupun dari kalangan yang terhitung rendah dalam bidang ekonomi dan pendidikan.

Hal tersebut dapat terjadi karena Islam memiliki daya atraksi tinggi yang dilihat dari kerasionalan konsep teologi dalam Islam. Seperti, ajaran ketauhidan yang berkenaan dengan keesaan Allah selaku Tuhan umat Islam, konsep ini sangat bisa diterima oleh akal sehat. Tidak hanya oleh para intelek, setiap orang bisa menerima konsep ini cukup dengan bermodalkan akal sehat dan hati nurani -yang pasti dimiliki oleh setiap manusia– dengan kondisi yang siap untuk menerima kebenaran.

Berkaca pada sejarah, saat era filusuf Yanani Kuno telah dikenal konsep Causa Prima (sebab utama) yang menjadi cikal bakal dari ilmu filsafat serta logika. Dan ternyata inilah yang meniscayakan konsep teologi dalam Islam menjadi semakin rasional. Mengenai penciptaan alam semesta misalnya, tentu alam semesta tidak ada dengan sendirinya melainkan ada yang menciptakan yaitu sang pencipta, dan pencipta itu mesti yang esa. Sebab, seandainya pencipta itu tidak esa/banyak, maka yang tercipta bukanlah alam semesta yang sedemikian teraturnya, akan tetapi alam semesta yang tidak beraturan karena para Tuhan disibukkan dengan debat panjang sehingga mengimplikasikan terciptanya alam yang tidak karu-karuan.

Hal lain yang membuat non-muslim beralih menjadi muslim -khususnya di kalangan ilmuan– adalah karena adanya keselarasan antara ilmu pengetahuan umum dan ajaran Islam, baik pengetahuan lama maupun yang baru-baru ini ditemukan. Hal inilah yang kemudian memunculkan interpretasi bahwa ada hal-hal yang bisa dibuktikan dengan eksperimen dan penelitian ilmiah. Pada akhirnya, mereka menemukan relevansi antara ajaran Islam yang bermuara pada Qur’an serta Hadist dengan pengamatan dan pengalaman yang telah dilakukan. Dan hal-hal yang tidak dapat dibuktikan secara ilmiah, dilogikakan dengan istilah iman.

Namun, di tepi lain, Islam justru disalahartikan oleh kebanyakan orang, baik dari kalangan non-muslim maupun pemeluk Islam sendiri. Salah arti oleh pemeluk Islam disebabkan tidak adanya upaya pencarian mendalam mengenai Islam dan hanya sekedar mengikuti agama orang tua ataupun mayoritas masyarakat saja. Mereka hanya memahami Islam yang bersumber dari al-Qur’an dan Sunnah secara parsial saja. Hal ini mengimplikasikan paradigma keislaman yang keliru. Mirisnya, kekeliruan ini justru malah mentamengkan Islam. Padahal, ada konsep yang bertolak belakang antara Islam dalam lingkup ideal dengan hal yang diimplementasikan oleh mereka yang secara langsung mengaku sebagai pemeluk agama Islam.

Dan inilah yang kemudian menyebabakan adanya kesenjangan antara konsep Islam dan realitas yang terjadi. Diakui atau tidak, hal ini terjadi disebabkan pemahaman Islam yang tidak komprehensif, sebagian orang membaca ajaran Islam hanya bagian-bagian tertentu saja tanpa mengindahkan kandungan isi al-Qur’an dan Sunnah yang terhimpun dalam kebanyakan buku Hadist. Padahal, Islam bersifat kaffah (total) dan harus dijalankan secara menyeluruh pula.

Kekeliruan-kekeliruan dalam konteks paradigma Islam terjadi dalam banyak ranah, utamanya dalam empat ranah paradigma, yakni politik, agama, ekonomi, dan keilmuan. Kekeliruan ini mengimplikasikan ajaran Islam menjadi seolah tersembunyi. Menukil perkataan Muhammad Abduh yang cukup relevan, “al-Islam mahjubun bi al-muslimin, yakni Islam tertutupi oleh umat Islam”.

Pertama, dalam ranah politik, banyak pakar yang menyatakan bahwa Islam dan politik tidak dapat disatukan. Pandangan ini dipengaruhi oleh paham politik ala Eropa-Barat yang menolak paradigma integralisme antara agama Katholik dan kebijakan negara pada era Katholik Gereja yang realitanya sangat merugikan masyarakat setempat. Hal ini terjadi karena para elit agama saat itu memusuhi pengetahuan umum dan penemuan baru dianggap tidak sesuai dengan dokrin agama pada saat itu.

Maka dari itu, kemudian muncul gerakan sekuler yang berusaha memisahkan antara ranah agama dan politik. Tentu lain halnya dengan Islam yang justru merupakan sumber dari segala sumber ilmu pengetahuan yang ada. Jadi, tidak ada kekhawatiran terhadap segala konsekuensi dari integralistik agama dan politik. Meski tidak mengintegrasikan keduanya, paling tidak agama dijadikan sebagai acuan etika dalam berpolitik. Terlebih secara teoritis, politik merupakan fasilitas untuk merealistiskan ajaran agama Islam dalam lingkup Nasional. Seperti yang pernah dicontohkan Rasul saat berada di Madinah.

Kedua, dalam ranah agama, banyak ilmuan muslim yang menyatakan bahwa “semua agama sama saja, namun tergantung orang dan agamanya”. Pandangan ini dimotori oleh kedangkalan ilmu dan keparsialan dalam memahami realita. Dalam konteks inilah Islam menunjukan objektivitas yang kuat, karena Islam datang dengan misi penyempurnaan dan pembenahan dari agama-agama samawi yang telah bergeser nilai-nilai fundamennya, termasuk konsep teologi yang telah dirubah oleh pemeluknya demi interest pribadi yang mengimplikasikan amalan-amalan kemanusiaan timpang jauh dari keotentikan ajaran Tuhan.

Ketiga, dalam ranah ekonomi, Islam menyajikan konsepsi adil. Spesifiknya, dalam lingkup praktik perbankan, paradigma Islam menentang riba. Inilah relevansi konsep ekonomi Islam dengan kondisi masa kini. Banyak juga non-muslim yang tertarik dengan paradigma ekonomi Islam ini. Bahkan jika berbicara lingkup yang lebih besar, perbankan Islam Eropa berpusat di Inggris, negara yang didominasi oleh non-muslim.

Keempat, dalam ranah keilmuan, ada pandangan yang cenderung memisahkan ilmu umum dan agama. Padahal, dalam Islam sangat ditekankan agar menggunakan akal sebagai penopang hidup dan alat untuk memahami berbagai fenomena yang terjadi. Oleh karen itu, Islam tidak memiliki konsepsi yang memisahkan antara agama dan ilmu umum. Dalam hal ini, al-Qur’an dan Sunnah Rasul-lah yang merupakan sentral dari keilmuan Islam. Bahkan bisa dijadikan sebagai acuan untuk menjalani lini kehidupan.

Dari keempat ranah tersebut, jelas bahwa konsepsi tauhid dalam Islam yang dimaksud adalah setiap gerak-tindak manusia haruslah merupakan ajaran Allah. Maka tak heran jika Allah dikatakan sebagai koridor dalam hidup. Dan karena itu, paradigma Islam mesti direkonstruksi dengan tujuan agar semua menjadi aktor pelaksana ajaran Islam yang baik dan benar. Dengan begitu, Islam menjadi lebih baik cukup dengan melihat perilaku keseharian umat Islam saja. Dan pada akhirnya, Islam akan memiliki power of attraction yang paling kuat dan menarik banyak pemeluk. Wallahu a’lam bi al-shawab.

Penulis: Siti Nurhaliamah (Kader HMIwati Cabang Jakarta Pusat Utara)

Foto: Internet

Bagikan artikel ini :