Home Opini/Artikel Menegaskan Keotentikan Al-Qur’an

Menegaskan Keotentikan Al-Qur’an

1219
0
Bagikan artikel ini :

Al-Qur’an mengklaim diri sebagai wahyu Tuhan (al-Fushilat : 2). Hal inilah yang kemudian menimbulkan kontroversi dari berbagai pihak yang tidak sependapat. Maka, penelusuran ilmiah menjadi solusi cerdas untuk memperoleh kesimpulan yang benar. Jika ditelisik secara mendalam dari segi fakta, al-Qur’an telah menunjukkan empat fakta yang menegaskan bukti keotentikan al-Qur’an sebagai wahyu Tuhan.

Pertama, ketinggian bahasa. Para rasul diutus dengan bahasa masing-masing kaum. Dalam konteks ini, bahasa tidak hanya sekedar menjadi alat untuk mengkomunikasikan pemikiran, akan tetapi juga mengandung makna pola fikir, yakni pola fikir kaum pada saat para Rasul diutus. Misalnya, Nabi Isa as diutus pada masyarakat yang beriklim ketabiban. Terlebih, tabib dianggap sebagai profesi-prestise oleh masyarakat pada masa itu. Maka tak heran jika Nabi Isa as diberi mukjizat mampu menyembuhkan orang yang buta sejak lahir, penyakit lepra, bahkan menghidupkan orang mati-pun mampu dilakukan.

Sama halnya dengan Nabi Musa as, beliau diutus pada masyarakat yang sangat mengagungkan sihir. Maka Nabi Musa as diberi mukjizat yang melebihi kualitas sihir era Fir’aun. Para tukang era Fir’aun hanya mampu mengubah tali menjadi ular. Sedangkan Nabi Musa as mampu mengubah tongkat menjadi ular besar yang berhasil memakan seluruh ular para tukang sihir. Ada juga Nabi Muhammad SAW, beliau diutus pada masyarakat yang selalu mengagungkan produk sya’ir karya penyair pada masanya. Maka Allah SWT memberi mukjizat kitab suci al-Qur’an, tentunya dengan kandungan nilai sastra yang tinggi. Bahkan, ketinggian al-Qur’an melebihi karya sastra para penyair pada era Arab Pagan.

Bangsa Arab Pagan pun meyakini bahwa para penyair dan tukang tenung merupakan pemberi inspirasi hebat. Sebab, mereka dianggap mendapat kekuatan alamiah yang bersumber dari jin dan bisa didapat setiap saat.
Dengan kata lain, sya’ir merupakan hasil diskusi antara jin dan para penyair.

Dalam konstelasi masyarakat yang seperti ini kemudian Nabi Muhammad SAW diutus. Jika ada warta yang dirisalahkan olehnya bertentangan dengan sya’ir Arab Pagan, maka Nabi Muhammad SAW dicela dan ditentang keras sambil mengatakan: “Wahai orang yang diturunkan al-Quran kepadanya, sesungguhnya kamu adalah orang yang majnun”. Al-Qur’an menegaskan: “Berkat rahmat Tuhanmu, engkau (Muhammad) sekali-kali bukanlah orang yang majnun (dirasuki jin)”.

Dari penegasan-pengasan al-Qur’an yang dibahasakan, jelas bahwa Al-Qur’an tidak sama dengan sya’ir para penyair yang berasal dari jin. Al-Qur’an adalah mukjizat yang sengaja diturunkan oleh Allah SWT pada masyarakat elit sastra. Al-Qur’an tak akan tertandingi sampai kapanpun dari segi bahasa.

Kedua, Nabi Muhammad SAW ummi. Pra-kerasulan, Nabi Muhammad SAW dikenal sebagai orang yang dapat dipercaya (al-amin). Sebab, semasa hidupnya tidak pernah berkata bohong. Segala ucapan yang bermuara pada Nabi merupakan kebenaran. Namun sebaliknya, masyarakat tiba-tiba berbalik tidak mempercyai Nabi pasca al-Qur’an turun. Mereka berkata: “Dongengan-dongengan orang-orang dahulu, dimintanya supaya dituliskan, maka dibacakanlah dongengan itu kepadanya setiap pagi dan petang.” Al-Qur’an menyanggah : “Kamu tidak pernah membaca sebelumnya al-Qur’an satu Kitab pun dan kamu tidak pernah menulisnya dengan tangan kananmu; andai kata kamu pernah membaca dan menulis, benar-benar ragulah orang yang mengingkarimu, yaitu orang-orang yang mengikuti seorang Rasul, Nabi yang ummi yang namanya mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka”.

Ketiga, prediksi al-Qur’an yang benar. Al-Qur’an berbicara tentang masa lalu, masa sekarang, dan masa yang akan datang. Berbicara seputar masa depan tentu bukan merupakan hal yang mudah. Sebab, mesti dapat dibuktikan kebenarannya. Fatalnya, jika terbukti prediksi itu bertentangan dengan kejadian yang diprediksi. Maka, krisis kepercayaan menjadi suatu keniscayaan bagi yang memprediksi. Diakui atau tidak, setiap yang diprediksi al-Qur’an tak pernah salah. Misalnya, prediksi Romawi yang akan menang melawan Persia. Padahal, realita -pra mengalahkan Persia- menunjukkan bahwa Romawi sangat tidak memungkinkan dapat mengalahkan Persia melihat kondisi Romawi yang sangat hancur akibat dikalahkan oleh Persia. Prediksi ini terdapat dalam surat ar-Rum ayat satu sampai enam.

Al-Qur’an menegaskan bahwa Romawi akan mengalahkan Persia dalam 3-9 tahun. Perang Romawi VS Persia di dekat Laut Mati dimulai pada tahun 619 M dan diakhiri pada tahun 627 M. Peristiwa ini cukup membuktikan kebenaran al-Qur’an. Romawi mengalahkan Persia sebelum genap delapan tahun. Bahkan, Persia mau menandatangani perjanjian bahwa akan mengembalikan daerah-daerah yang diduduki Persia sebelumnya dengan dipaksa oleh Bizantium.

Keempat, penemuan modern. Tidak sedikit fakta nyata yang ternyata telah diinformasikan oleh al-Qur’an sebelumnya. Misalnya, terkait lokasi perang Romawi VS Persia. Lokasi perang berada di titik terendah permukaan bumi, yakni 300 meter di bawah permukaan air laut. Padahal, pada masa al-Qur’an turun tidak ada teknologi yang mampu mengukur posisi ketinggian lokasi di atas permukaan bumi.
Juga terkait serangga mikroskopik yang ada di setiap nyamuk. Informasi ini terdapat jelas dalam al- Qur’an surat al-Baqarah ayat 26. Dan sekarang, informasi ini telah dibuktikan oleh penemuan modern, yakni temuan berupa serangga berukuran mikroskopik yang pasti ada di atas setiap nyamuk.

Dari empat fakta ini, tentu cukup memberikan sajian normatif bahwa al-Qur’an bukan sekedar karya tulis manusia. Al-Qur’an adalah wahyu Tuhan, memiliki banyak keunikan, tidak mungkin dijangkau manusia, memberi sajian informasi-informasi akurat dan berimbang terkait kejadian masa lalu, sekarang,dan masa yang akan datang. Oleh karena itu, sangat pantas jika al-Qur’an dijadikan pedoman petunjuk bagi manusia, khususnya bagi orang-orang yang bertaqwa pada Allah SWT. Wallahu a’lam bi al-shawab.

Penulis adalah santriwati di Pondok Pesantren Darul Quran Putra Fatahillah

Foto: Internet

Bagikan artikel ini :