Home Nasional Dunia Politik Perempuan

Dunia Politik Perempuan

674
0
Foto Ilustrasi
Bagikan artikel ini :

Islam merupakan agama samawi yang universal. Islam turun pada bangsa yang memiliki tatanan nilai tinggi, Arab suku Quraisy. Islam dibawa oleh manusia yang jujur dan disertai kitab suci al-Quran. Al-Quran merupakan kitab yang komprehensif, kitab yang membahas seluruh aspek kehidupan dunia dan akhirat. Tak ada satu pun wacana yang tak tersentuh oleh ayat al-Quran, termasuk di dalamnya terdapat mengenai wacana perempuan. Al-Quran memposisikan perempuan sebagai manusia yang memiliki status sama dengan laki-laki, yakni sama-sama sebagai hamba Tuhan sekaligus khalifah di bumi.

Adapun mengenai perbedaan antara laki-laki dan perempuan, hanya terletak pada struktur biologis. Inilah yang dikatakan sebagai ‘kodrat’ yang tak dapat dielakkan. Kodrat bahwa perempuan tak akan bisa lepas dari identitas jender sebagai manusia yang potensi untuk mengandung, melahirkan, dan menyusui. Tiga peran ini merupakan implikasi dari perbedaan struktur biologis, karena hanya perempuan lah yang memiliki organ reproduksi untuk mengalami ketiga hal ini.

Second Class

Implikasi dari perbedaan struktur biologis semestinya tidak menjalar pada aspek peran dan tugas perempuan dalam ranah sosial. Karena pada hakekatnya, perempuan dan laki-laki memiliki peran dan tugas yang sama dalam negara. Namun, realita yang terjadi adalah perempuan selalu mendapatkan secound class. Perempuan terpenjara oleh persepsi negatif bahwa laki-laki lah pelaku utama dalam memerankan peranan sosial dan laki-laki lah yang paling berhak menjadi trand setter. Pada akhirnya, perempuan disubordinasi dan hanya dijadikan sebagai konco wingking.

Persepsi negatif inilah yang kemudian mengimplikasikan berkembangnya kultur patriarki dalam masyarakat Arab pra-Islam. Perempuan sengaja di-setting sebagai manusia pasif dan tidak diberi porsi yang sama dengan laki-laki dalam masyarakat dan politik. Di satu sisi, penempatan perempuan pada posisi second class dalam kancah masyarakat dan politik merupakan ketidakadilan hak. Di sisi lain, peempatan second class boleh jadi merupakan suatu bentuk penghormatan bagi perempuan. Sesuai dengan asal mula ejaan kata perempuan yang berasal dari kata ‘empu’ yang artinya dihargai, dipertuan, dan dihormati.

Dihormati karena perempuan memiliki peran yang pasti tidak akan pernah bisa dilakukan laki-laki. Dan peranan itu teramat memerlukan perjuangan yang besar, yakni mengandung, melahirkan, dan menyusui. Maka tak heran, Islam mengangkat martabat perempuan. Islam mengangkat derajat perempuan tiga kali dibanding laki-laki yang menjadi suaminya.

Terlebih, perempuan diharuskan mendapat perlakuan baik, penuh kelembutan, dan kasih saying. Namun, kalaupun benar penempatan perempuan di secound class merupakan penghormatan, agar perempuan tidak perlu bersusah payah mengurusi urusan negara yang -boleh dikatakan- ruwet. Bukan berarti pula hak-hak perempuan untuk bersosial dan berpolitik dibatasi sedemikian rupa. Hak-hak itu tetap harus ada, terlepas dari bentuk penghormatan dan identitas jender yang melekat pada diri perempuan.

Karena hak asasi tidak dapat digeneralisasikan. Tidak semua perempuan menganggap urusan politik sebagai tugas yang berat. Begitu pula sebaliknya, tidak semua perempuan mampu melakukan peran ganda. Sebagai contoh, Siti Khadijah yang merupakan istri dari Rasulullah saw,. Ia mampu melakukan peran ganda dan senantiasa berperan dalam memperjuangkan Islam dengan hartanya. Istri Rasul yang lainnya yang berperan ganda adalah Siti Aisyah, ia dikenal sebagai perempuan cerdas dan menjadi guru bagi kaum perempuan pada masanya. Bahkan, ia ikut terlibat dalam pertempuran di medan perang.

Dunia Politik

Jika pada abad ke tujuh sudah ada perempuan yang berpolitik, maka sangat naif jika di era modern ini masih banyak perempuan yang tidak mau ikut berperan dalam politik dan masih beranggapan bahwa politik merupakan ranah yang tabu. Politik dianggap sebagai ranah kejahatan dalam area pertarungan bebas, ranah yang kotor dan kasar, dan tempat berkumpul para koruptor. Politik juga dianggap sebagai ladang untuk mendapatkan popularitas tinggi dan dijadikan jembatan untuk meraih kekayaan.

Yang lebih mengerikan lagi, semakin tinggi area kancah politik, maka semakin tinggi pula potensi untuk melakukan kejahatan. Tak dipungkiri, semua ini memang berbanding berbalik dengan kodrat perempuan yang identik dengan jiwa yang tertib, bersih, lembut, dan penyayang. Namun, justru dalam kondisi yang terbalik inilah peran perempuan diperlukan untuk meluruskan logika sesat yang kian menjamur. Agar kemudian, tercipta iklim politik yang dingin, yang bersih dari segala penggelapan.

Negara memerlukan perempuan-perempuan yang memiliki semangat tinggi dalam membantu proses pembangunan bangsa. Perlu pula disadari bahwa, negara akan selalu menanti sosok kontributor perempuan. Karena perempuan adalah tiang negara. Dan negara tak akan berdiri kokoh tanpa perempuan yang giat berpolitik. Selama ini, masih sedikit sekali perempuan yang melek politik. Bahkan, hingga di kota-kota besar pun, masih banyak perempuan yang enggan berpolitik.

Padahal, peran politik perempuan sangat dibutuhkan, guna menetralkan iklim politik dan memperjuangkan kebijakan-kebijakan yang pro terhadap perempuan. Dengan demikian, jumlah suara politisi perempuan harus sama dengan suara laki-laki dalam tahap pembuatan kebijakan. Karena masih banyak aturan-aturan yang belum terjamah, yang hanya bisa dipahami oleh perempuan. Misalnya, untuk persoalan jumlah kamar mandi dan tempat menyusui di mall yang sangat sedikit. Persoalan model ini terkadang tidak disadari oleh kaum laki-laki. Sedangkan perempuan memiliki sensitifitas yang tinggi untuk urusan yang berkaitan dengan kebutuhan dan kenyamanan kaum perempuan. Wallahu a’lam bi al-shawab

Foto: Internet

Penulis:
Siti Nurhalimah (Mantan Ketua Bidang Pemberdayaan Perempuan di HMI Komisariat STEBANK ISLAM)

Bagikan artikel ini :