Home Daerah Entas Kemiskinan, Jatim Gandeng USAID

Entas Kemiskinan, Jatim Gandeng USAID

461
0
Bagikan artikel ini :

globalnews.co.id (Surabaya) – Gubernur Jatim Dr. H. Soekarwo mengharapkan keberhasilan United States Agency for International Development (USAID) di Jatim dilanjutkan khususnya untuk daerah di Pulau Madura, Kab. Bondowoso, Kab. Situbondo, dan Kab. Probolinggo. Sebab, selama ini program-program USAID seperti pendidikan, kesehatan, serta air bersih dan sanitasi sudah berhasil diterapkan di Tulungagung, Jember, dam Malang.

“Kerjasama Pemprov Jatim dengan USAID akan habis pada Juni ini. Mohon diperpanjang keberhasilan program-program USAID tidak hanya di Tulungagung dan Jember, tetapi juga di Bondowoso, Situbondo, Probolinggo, dan seluruh Madura,” kata Gubernur Jatim Dr. H. Soekarwo saat menerima rombongan USAID Indonesia dan Konjen AS untuk Surabaya di Ruang Kerja Gubernur Jatim, Kantor Gubernur Jatim Jl.

Pahlawan No. 110 Surabaya, Kamis (27/4).
Pakde Karwo, sapaan lekat Gubernur Jatim menjelaskan, beberapa daerah tersebut masih terdapat kekurangan dalam pendidikan, kesehatan, air bersih dan sanitasi, yang dapat menyebabkan tingkat kemiskinan masih tinggi. Sebagai contoh, di Kab. Sampang tingkat kemiskinan masih 24 persen.

“Ini yang menjadi tantangan di Jatim. Problem besar kemiskinan di daerah Madura adalah masalah kesehatan dan pendidikan, termasuk juga air bersih dan sanitasi,” ujarnya.
Menurutnya, pendidikan dan kesehatan sebagai kunci penting bagi kemajuan sumber daya manusia (SDM). Jika pendidikan dan kesehatan rendah, maka kualitas SDM juga ikut rendah.
Kondisi ini berbeda dengan di Tulungagung, Malang, Jember yang sudah baik pendidikan, kesehatan, air bersih dan sanitasi, bahkan tingkat kemiskinan di Tulungagung, Malang tinggal 6,2 persen.

Untuk itu, hampir seluruh belanja anggaran masuk ke daerah Bondowoso, Situbondo, Probolinggo, dan seluruh Madura karena derajat kesehatannya rendah, pendidikan vokasional hampir tidak ada, serta masih menggunakan pendidikan agama tradisional sebagai basisnya NU.

Dalam menghadapi permasalahan tersebut, jelas Pakde Karwo, Pemprov Jatim telah melakukan beberapa langkah konkret. Salah satunya yakni dengan didirikannya SMK Mini yang menerapkan pendidikan vokasional selama enam bulan. Hingga saat ini sudah ada sebanyak 270 SMK Mini dengan sembilan jurusan yang bisa dipilih sesuai kebutuhan. (setya)

Bagikan artikel ini :