Home Kesehatan Ahok-Jarot Menang, Harapan Perbaikan Pelayanan Kesehatan Sirna

Ahok-Jarot Menang, Harapan Perbaikan Pelayanan Kesehatan Sirna

1465
0
Bagikan artikel ini :

globalnews (Jakarta) – Relawan Kesehatan Indonesia (Rekan) menyimpulkan tidak ada harapan perbaikan pelayanan kesehatan jika DKI kembali dipimpin Ahok dan Djarot, karena selama 5 tahun lalu tidak ada perbaikan pelayanan kesehatan di RS bahkan malah semakin buruk.

Hal ini diungkap oleh Martha Tiana Hermawan, Sekretaris Relawan Kesehatan Indonesia (Rekan Indonesia) DKI Jakarta dalam keterangan persnya hari ini (15/4) di Jakarta.

April adalah bulan Kartini, dimana bangsa Indonesia memperingati hari Kartini yang jatuh pada tanggal 21 April sebagai tonggak perjuangan terhadap hak hak Perempuan. Dimana sebelumnya di bulan Maret kita juga memperingati Hari Perempuan Sedunia.

Ini artinya hanya Indonesia yang memperingati perjuangan hak kaum perempuan selama 2 bulan yaitu Maret dan April.

Sejatinya perempuan Indonesia sudah dapat terbebas dari belenggu penindasan yang disebabkan oleh sistem patriakal, namun dalam kenyataannya masih banyak penindasan terhadap hak perempuan di Indonesia, termasuk dalam hak pelayanan kesehatan bagi perempuan dimana masih banyak pelayanan kesehatan yang jauh dari rasa nyaman dan aman bagi kaum perempuan.

DKI Jakarta misalnya yang mengklaim diri sebagai kota modern juga tidak luput dari praktek pelayanan kesehatan yang jauh dari rasa aman dan nyaman bagi perempuan.

Kita masih sering jumpai, ibu hamil yang mendapatkan pelayanan yang lambat di IGD/UGD Kebidanan di RSUD atau RS Swasta di DKI. Masih banyak kita jumpai ibu hamil yang dihambat pelayanannya hanya karena proses administrasi yang diterapkan di RSUD atau RS Swasta DKI dan ironisnya itu diluar persyaratan peserta untuk dapat dijamin oleh BPJS.

Menurut Tian panggilan akrabnya, Rekan Indonesia setidaknya mencatat 332 kasus selama periode Januari – Maret 2017 yang terkait dengan pelayanan kesehatan di RS terhadap perempuan.

“Mulai dari perawat yang tidak pernah senyum, sprei tempat tidur yang tidak diganti selama 2 hari, dipulangpaksakan padahal masih sakit pasca melahirkan, obat tidak diberikan, dilecehkan secara sosial oleh perawat, tidak ditangani berjam jam di UGD/IGD, sampai dihambat pelayanannya hanya karena selembar materai” ujar Tian.

Menurut Tian hampir setiap hari Rekan Indonesia mendapatkan 5 laporan terkait pelayanan kesehatan yang buruk kepada perempuan. Yang paling tragis adalah yang menimpa Yuni warga Pejaten Barat yang harus terhambat penanganannya di IGD RSUD Pasar Minggu selama 15 menit hanya karena perawat yang ngotot untuk dapat membubuhkan di surat pernyataan yang bukan bagian dari persyaratan jaminan.

“Padahal saat itu syarat administrasi untuk dapat dijamin sudah lengkap. Namun petugas IGD RSUD Pasar Minggu ngotot tidak mau menangani sebelum ada materai. Sementara pasien sudah pecah ketuban sejak di RSUK Tebet dan kejadiannya jam 02 pagi” ungkap Tian.
“Rekan Indonesia sudah mengingatkan apakah tidak ada pertimbangan kemanusiaan ? Jangan hanya karena materai pasien yang sudah pecah ketuban jadi lambat penangannya. Namun petugas di IGD RSUD Pasar Minggu masih tetap ngotot materai” papar Tian.

Ditambahkan oleh Tian, walau akhirnya bisa ditangani dan dipindah ke IGD Kebidanan. Namun tetap terjadi penghambatan pelayanan terhadap pasien gawat, sehingga akhirnya bayi yang dilahirkan lewat operasi cecar tersebut wafat setelah bertahan 7 hari karena keracunan ketuban yang menyebabkan terjadinya infeksi di pencernaan bayi ibu Yuni.

Selain mengalami buruknya pelayanan kesehatan di RSUD dan RS Swasta DKI. Kaum perempuan juga sering diterror oleh petugas RS dengan ungkapan ungkapan yang melecehkan secara strata sosial.

“Jelas hal itu menyakitkan bagi warga DKI. Bayangkan ketika masih sakit dan lelah pasca melahirkan, seorang ibu harus menerima ungkapan dari perawat yang melecehkan secara sosial misalnya kalau pakai jaminan jangan beranak terus dong…atau Ini RS bukan Hotel selesai melahirkan harus cepat pulang biar gantian….pakai BPJS kok mau lama lama dirawatnya” papar Tian.

Untuk itu Rekan Indonesia menaruh harapan yang kuat akan adanya perubahan terhadap pelayanan kesehatan di DKI melalui pilkada DKI 2017.

Rekan Indonesia berharap muncul pemimpin baru yang lebih memperhatikan terhadap pelayanan kesehatan bagi warga DKI di RS baik RSUD maupun RS Swasta.(fs/ril)

Bagikan artikel ini :