Home Events Fakta Peluang Dan Tantangan E-Dagang Indonesia Untuk Masa Depan

Fakta Peluang Dan Tantangan E-Dagang Indonesia Untuk Masa Depan

675
0
Bagikan artikel ini :

globalnews.co.id (Jakarta) – Dari data yang dilansir oleh Kementerian Komunikasi dan lnformatika (Kemenkominfo), pada tahun 2020 diperkirakan nilai transaksi e-commerce di lndonesia akan mencapai US$130 miliar atau setara sekitar Rp1700 triliun. Tetapi dalam penelitian yang sudah dilakukan oleh PwC di tahun 2017, ternyata masih banyak tantangan dan kendala yang harus dihadapi. Beberapa di antaranya, ditemukan fakta 20% perusahaan retail yang mengaku mengalami kesulitan saat beralih sistem. Selain itu, ada 10% yang mengalami kekurangan tenaga ahli.Hal itu diungkap oleh laporan PwC :Where retailer should invest for business in 2017, dalam acara diskusi Rabu Commerce yang diadakan oleh Asasiasi Ecommerce Indonesia (idEA) dan Dyandra di Scenic Resto & Lounge Sahid Sudirman, Jakarta (12/04).

Acara diskusi ini mengambil tema Empowering Bricks 2 Clicks: Why Going Oniine is Necessity for Retailers itu menghadirkan Hadi Kuncoro, CEO aCommerce, Lisa Widodo, Head of Operations and Product Management Blibli.com, serta perwakilan dari PwC.

Dalam kesempatan diskusi ini Hadi Kuncoro mengatakan, industri konvensional harus mengetahui bagaimana cara yang tepat untuk masuk ke digital. “Kuncinya, retailer harus mengetahul bagaimana mengintegrasikan multichannel yang tepat, baik secara online maupun offline,’ ujar Hadi.

Sementara itu Lisa Widodo menyebut sejumlah peluang yang harus dimalsimalkan pengusaha FMCG clan retailer. “Harus ada kerja sama yang terpadu antara brand dengan perusahaan yang sudah berpengalaman di ecommerce. Jadi, bukan sekadar jualan di online, tapi harus juga memperhatikan aspek yang lengkap, seperti akses yang mudah dijangkau serta keunikan yang berbeda dibanding berjualan secara konvensional,’ ujar Lisa.

Ada tantangan lain yang harus dipahami pelaku retailers yang ingin masuk ke online, yakni menghapus keraguan konsumen terhadap tingkat keamanan belanja ecommerce. Dari data yang disebutkan PwC, ternyata faktanya 65% orang masih takut akses digitalnya diretas orang. Karena itu, 55% orang menyebut hanya percaya pada provider yang sudah mereka percayai. Faktor kepercayaan inilah yang harus segera dibenahi

Jika beberapa hal tersebut bisa diatasi, maka ada banyak peIuang yang bisa dimaksirnalkan antara perusahaan berbasis konvensional dan online. Seperti yang disebutkan oleh Ketua Umum idEA, AuIia Marinto, “Produk yang masih offline bisa bekerja sama dengan perusahaan online sehingga bisa memperbesar kemungkinan memperoieh pembeli-pembeli secara lebih luas. Sebaliknya, online retaiier yang memiliki inventory online juga bisa memanfaatkan kehadiran toko offline untuk memperbanyak produk yang dijualnya. Inilah kerja sama saling menguntungkan yang akan memajukan ekosistem digital ekonoml Indonesia di masa depan.”

Masih banyak Iagi peluang dan tantangan industri e-commerce di masa depan. Beberapa di antaranya seperti bagaimana mengelola big data yang dimiliki, bagaimana memperoleh konsumen yang loyal di bisnis online, hingga bagaimana menangani Iogistik dan pengadaan jika lalu Iintas barang makin padat di semua daerah dan negara.

Semua hal tersebut akan diperdalam dan dibahas lebih tuntas dalam salah satu pilar Indonesia E-commerce Summit & Expo (IESE) 2017 yang akan diselenggarakan pada 9-11 Mei 2017 di ICE BSD Tangerang. Pada hari kedua (10 Mei 2017), akan diadakan diskusi panel bertema: ”Moving from Bricks to Clicks: How brands & products are embracing Multichannel Commerce”. Acara tersebut akan menghadirkan Kusumo Martanto (CEO Blibli.com), Sarah Frey, Regional E-Commerce & M-Commerce Manager Danone Nutricia Early Life Nutrition, Alexis Horowitz-Burdick (Managing Director Sephora Digital SEA), VP Sharma (CEO Group MAP), Donny Maya Wardhana (CCO Acommerce Indonesia).

Untuk informasi lebih lanjut tentang acara IESE 2017, silakan buka website: www.iese.id Profil Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA). (RK)

Bagikan artikel ini :