Home Edukasi Jejak Langkah Seorang Raden Ajeng: “Reflections on R.A. Kartini”

Jejak Langkah Seorang Raden Ajeng: “Reflections on R.A. Kartini”

940
0
Bagikan artikel ini :

Raden Ajeng Kartini (1879-1904) dilahirkan dari lingkungan bangsawan di Jepara, Jawa Tengah, pada era kekuasaan kolonial Belanda. Di luar kelaziman pada masa itu, ayahnya mengizinkan Kartini untuk mendapatkan pendidikan formal di sekolah Belanda yang dikhususkan bagi orang Eropa dan anak laki-laki keluarga bangsawan Jawa. Ini membuat Kartini adalah salah satu perempuan pribumi yang bisa bersekolah dan mendapatkan pendidikan Eropa di masa itu.

Sayangnya karena budaya masyarakat Jawa di masa itu, Kartini harus berhenti sekolah pada usia 12 tahun. Pada usia 24 tahun, Kartini menikahi lelaki bangsawan yang usianya dua kali lebih tua dibanding Kartini dan sudah memiliki tiga istri.

Sebagai perempuan Jawa yang sudah mengenyam pendidikan di Eropa, Kartini sering menulis surat dalam Bahasa Belanda kepada para sahabat penanya di Belanda dan menyuarakan pertanyaan, gugatan, dan pemberontakan terhadap ketidakadilan masyarakat pribumi di Jawa, termasuk dalam hal poligami perkawinan dan kesetaraan pendidikan bagi perempuan pribumi. Untuk mewujudkan mimpinya, Kartini mendirikan sekolah untuk anak perempuan pribumi.

Pengaruh dan pentingnya gagasan pendidikan, emansipasi perempuan dan kesadaran bangsa yang dimiliki Kartini masih dapat dirasakan hingga sekarang dan akan menjadi topik utama dalam Seminar Kartini yang akan diselenggarakan di Erasmus Huis Jakarta tanggal 13 Maret 2017. Para pembicara yang tampil antara lain Paul Bijil, peneliti KITLV Leiden; Dewi Candraningrum; Nursyahbani Katjasungkana; dan Rumail Abbas dari Rumah Kartini Jepara.

Selain itu, pembicara lain adalah Professor Toeti Heraty, seoranyang penyair, filosof, sejarawan seni, dan aktivis HAM; serta Dian Sastrowardoyo, aktris yang akan memerankan tokoh Kartini dalam film layar lebar terbaru yang akan dirilis bulan April nanti.

Semua foto Kartini yang dipajang di Erasmus Huis merupakan koleksi Perpustakaan Universitas Leiden dan dalam kerangka antara Perpustakaan Universitas Leiden dan Kedutaan Belanda di Jakarta. Foto-foto tersebut akan dihibahkan ke Museum Kartini di Jepara setelah pameran selesai.

(ibnurasyid)

Bagikan artikel ini :